Sabtu, 23 Juni 2018

Alasan Mengapa Nozaki-Kun (Memang) Layak Diperjuangkan

Bagi yang pernah nonton anime Gekkan Shojou Nozaki-Kun, kemungkinan besar bakal rada kesel sama ketidak-pekaan Nozaki terhadap kode keras yang dikasih sama Sakura. Bahkan sampai episode terakhir, ketidak-pekaan itu belum juga memudar. Tapi dibalik itu, Nozaki punya beberapa kelebihan, yang mungkin menjadi alasan Sakura kesengsem sama dia.

Totalitas
Sebagai Manga Artist, Nozaki patut diacungi jempol dalam pembuatan Let’s Fall in Love. Dari observasi yang mendetail sampai “barter kemampuan” dengan teman-temannya. Bahkan ketika sakit dan nggak boleh bangun dari tempat tidur, Nozaki malah minta Sakura buat gantiin dia di tempat tidur (?).  


No Jaim
Beberapa kali Nozaki ke sekolah pakai kompres gara-gara habis lembur, dan... dia biasa aja. Nggak malu tuh. Cocok banget sama gw yang sering pakai koyo di jidat kalau ngampus bawa revisian skrispi.



190 cm
Bagi Sakura (dan gw) yang tingginya nggak sampai 150 cm, Nozaki ini tergolong raksasa dengan tinggi badannya yang mencapai 190 cm. Tapi ini yang bikin imut. Bayangkan saudara-saudara, dengan tinggi 190cm, keuntungan macam apa saja yang dapat “kita” peroleh, jika punya lelaki macam itu: tak perlu lagi naik meja untuk pasang lampu kamar, kalau hilang dikerumunan akan mudah ditemukan, kalau capek jalan tinggal minta gendong, see?



Nggak Takut Kecoak
Maaan, entah sejak kapan banyak lelaki takut kecoak. Contohlah Nozaki yang dengan gagah berani membunuh kecoak di kelas dan menyelamatkan teman-temannya.


Pandai Memanfaatkan Situasi (dan Orang Lain)
Tahu sendiri kan kalau Let’s Fall in Love sebenarnya dibuat “rame-rame”? Sakura ngerjain beta, Mikoshiba (yang jadi inspirasi karakter dari Suzuki) bikin charming flower, Hiyori Senpai yang gambar tempat. Tapi itu semua dapat terjadi karena kemampuan Nozaki dalam memanfaatkan potensi  dari teman-temannya.
Atau, ingat waktu episode dimana Hiyori Senpai, Mikoshiba, dan Wakamatsu kehujanan terus numpang tidur di tempat Nozaki? Nozaki tanpa buang kesempatan, langsung catat kegiatan mereka untuk referensi scene di manganya. Atau, waktu episode dimana Mikoshiba diminta jadi model club seni? Nozaki pada akhirnya malah memanfaatkan seisi orang di ruang seni.


Sabtu, 19 Mei 2018

Nikmat yang (sering) saya abaikan: dikelilingi oleh orang-orang baik.

Awal daftar ulang kuliah, saya dicarikan kos sama Mba Eka (kakak kelas saya waktu SMP-SMA, Moga Allah selalu kasih limpahan keberkahan buatnya). Namanya juga maru, nyari kosan yang penting fasilitas oke dengan harga yang nggak bikin kere. Berbagai tawaran dari kos yang wifi nggak pernah macet sampai kamar mandi yang rada mampet, datang dari teman-temannya Mba Eka. Nggak tau gimana, sampai akhirnya Allah mempertemukan saya sama Mba Nia, dan diboyong ke kosbin Fisip. Iya, kosbin. Lewat kosbin ini karakter saya di kampus terbentuk. Bagaimana dulu saya yang sering menunda-nunda shalat, terus harus sudah merapat sebelum iqomat dari masjid terdekat. Dari dzikir yang dulu seadanya waktu, sampai dzikir yang dirutinkan selalu. Kajian yang dulunya paling kalau ada acara tahunan, sekarang jadi kegiatan rutinan. Dengan izin Allah, semuanya itu atas ikhtiar mba-mba di kosbin. Masih inget, gw digedor sama Mba Hira gara-gara ketiduran belum Isya’ atau nggak bisa Subuh jamaah. Atau iri banget ketika Mba Yasmin yang kelihatannya slengekan, gaul, stylish, tapi hafalannya keren abis. Atau kesabaran Mba Menik dalam tindak tanduk dan perilakuknya. Serius, tahun pertama itu yang bentuk pribadi saya. Saya masih ingat, pesan dari seorang trainer ketika saya masih maru. Beliau bilang, kalau mahasiswa baru itu kesasarnya ya paling di dua jalan B.  Nyasar jadi baik atau jadi bejad. Mungkin ini yang dinamakan nyasar jadi baik.

Saya bukan orang baik, pun ada kebaikan, saya baru bisa menjadikan kebaikan itu hanya untuk diri saya. Tapi... banyak orang baik di sekitar saya. Dan saya meyakini bahwa kebaikan merupakan sesuatu yang menular.

Senin, 23 April 2018

Second Batch of Seatecher By SEAMEO (Universitas Sebelas Maret - Valaya Alongkorn Rajabhat University)

Saya Zahrotunnisa, dari Prodi Pendidikan Fisika 2013. Saya merupakan satu dari 6 mahasiswa FKIP UNS yang beruntung karena berkesempatan menjejakan kaki di negara lain dalam program PPL Internasional yang diadakan oleh SEAMEO. Saya ditempatkan di Valaya Alongkorn Rajabhat University, bersama 16 mahasiswa Indonesia lainnya dan 2 mahasiswa Filipina. Jika dibandingkan teman-teman lain dari UNS, mungkin saya tergolong yang paling “ngenes”. Tapi dari ke-“ngenes”an itu lah saya belajar banyak hal.
Awal kedatangan, saya dijemput oleh para buddy, kemudian langsung diantar ke dorm. Sesampainya di dorm, ada rasa capek, lapar, dan yang paling dominan, haus! Dan di dorm tidak ada fasilitas air minum. Akhirnya dengan tenaga yang masih tersisa, saya berjalan sejauh 800 m untuk memberi air galon ukuran 6 liter, yang kemudian diangkut sejauh 800 m (lagi). Makanan pertama saya adalah mie instan (yang saya bawa dari Indonesia) yang dimaksak dengan heater seadanya. Hari-hari berikutnya, saya mencari sumber pangan di Pasar Khong Lua, bisa beli ikan goreng, nasi, dan buah-buahan. Kalau sedang benar-benar capek, saya “terpaksa” mengeluarkan uang lebih untuk membeli makanan halal siap saji di 7eleven.
Penjemputan Oleh Para Buddy

Pasar Khong Lua

Beberapa hari setelah kedatangan, akhirnya pembagian sekolah diputuskan. Saya mengajar di Chiengraknoi School, dengan Kru Song sebagai guru pamong saya. Kabar baiknya, Chiengraknoi merupakan sekolah dengan populasi siswa Muslim yang mencapai 30%, sehingga tersedia dua kantin yang menyediakan makanan halal. Biasanya saya akan brunch di sana, dan membeli seporsi khao man gai untuk dibawa ke dorm sebagai makan malam. Kabar buruknya, ternyata saya diharuskan mengajar bahasa Inggris di kelas 4 dan 6. Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang materi pada pelajaran Bahasa Inggris dan psikologi anak sekolah dasar. Tapi bagaimana lagi, ini tantangan yang mau tidak mau harus saya selesaikan. Alhasil, beberapa malam setelahnya, saya aktif menacari referinsi baik materi maupun rencana pembelajaran. Karena  buku teks dan rencana pembelajaran yang ada di sekolah, semua menggunakan Bahasa Thailand, dan saya sama sekali tidak ada gambaran tentangnya.
Gerbang depan Chiang Rak Noi School

Kantin Halal di CRN School yang Selalu Ramai di Pagi dan Waktu Istirahat

Pada tahap awal, yang saya lakukan adalah observasi kelas. Dalam bidang teknologi, di kelas saya sudah menggunakan smartboard, komputer yang terkoneksi dengan internet, dan set mikrophone – speaker. Namun, untuk proses pembelajaran, tahapnya hampir sama degan pembelajaran di Indonesia. Ketika guru belum datang, siswa akan berbaris dengan rapi di depan kelas sembari menunggu. Kelas dimulai dengan berdoa, kemudian guru memberikan motivasi dan nasehat dengan posisi siswa diam menunduk, baru kemudian pembelajaran seperti biasa. Dalam proses mengajar, saya benar-benar kaget ketika mendapati guru memukul siswa. Selama proses observasi, beberapa kali saya menyaksikan siswa dipukul, tapi mereka hanya diam menunduk. Kalau di Indonesia, pasti sudah heboh yah. Oh iya, guru itu wajib datang sebelum siswa, kemudian para guru akan berjejer di gerbang untuk menyambut siswa yang datang. Setiap hari, di sekolah selalu mengadakan upacara bendera loh, dan tidak ada siswa yang pura-pura sakit lalu mundur ke belakang.
Kondisi Kelas Ketika Tahap Observasi

Upacara Bendera Setiap Pagi

Siswa yang Baru Datang Diperintahkan untuk Mencabuti Rumput


Setelah observasi, saya menjadi asisten guru dalam mengajar selama beberapa hari, dan kemudian baru mengajar secara mandiri. Meskipun, pada prakteknya, saya selalu dibantu oleh Kru Song untuk menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Thailand, begitu pula sebalikanya. Sampai akhrinya, evaluator dari universitas datang untuk menilai. Semua terkondisikan dari awal, apa yang harus saya ajarkan, dan media apa saja yang akan saya gunakan. Setelah mengajar, saya mendapat masukan dalam pembelajaran yang saya lakukan. Tapi, evaluator malah banyak bertanya mengenai nama saya yang hanya satu kata, kenapa tidak ada nama marga, kenapa suka mengajar, dan perbincangan ringan lainnya.
Selama saya berada di Chiengraknoi, saya pernah diajak berdarma wisata ke daerah Ayuthayya. Melihat beberapa pasar apung, drama panggung dan pusat oleh-oleh di sana. Pada acara perpisahan, kebetulan bertepatan dengan hari Sang Ratu, sehingga diadakan acara yang meriah. Banyak tarian dan drama pentas yang diperlihatkan. Saya juga berkesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia dengan mengenakan pakaian Kebaya dan menyanyikan beberapa lagu daerah. Sampai di penghujung acara, yaitu perpisahan dengan siswa.
Darma Wisata CRN School

Farewell Party

Di luar hal pembelajaran, ada hal yang sangat membekas di hati saya: Mahasiswa PPL Valaya. Mereka banyak sekali membantu saya. Game, setiap pagi menunggui saya untuk menyetop van sam sam paet (jurusan 338). Oi, menjadi teman dekat saya meski dia tidak begitu mengerti Bahasa Inggris. Dan... teman-teman Muslim yang ada di sana, Daela dan Hawa. Mereka kebanyakan berasal dari Pathani, Thailand Selatan. Mereka ini lah yang sudah saya anggap saudara sendri. Ketika saya sakit, mereka memboyong saya ke dorm mereka. Ketika saya mengeluh tentang susahnya mencari makanan halal, mereka mengajak ke cafe halal yang ternyata dekat dengan univeritas. Ketika saya hendak pulang ke Indonesia, mereka mengajak saya jalan-jalan ke Ramkhamhaeng, dan mengenalkan saya dengan komunitas mahasiswa Muslim di sana.
Dorm Mahasiswi Muslim Valaya Alongkorn Rajabhat University

Ketika akhir pekan (tetunya jika tidak ada agenda dari universitas) saya biasanya “mbolang”. Saya pernah jalan ke Asian Institute Technology (AIT) hanya bermodal Google Map dan pertemanan dengan seorang ibu yang saya add di facebook. Di AIT ini saya merasa pulang ke rumah. Mahasiswa Indonesia di sana ramah-ramah, bahkan mau “menampung” saya selama dua hari. Mereka mengajak saya jalan-jalan ke Bangkok bersama ibu-ibu lain, dan mengajari saya naik Bangkok Train Station (BTS). Sungguh, BTS itu keren, cepat, murah, dan jarak kedatangan kereta hanya 5 – 10 menit. Tidak perlu menunggu lama. Di dalam kereta pun nyaman. Tapi saya tetap diperingatkan untuk selalu waspada dan menaruh tas di depan. Overall, saya happy berkeliling Bangkok dengan ibu-ibu yang “terlanjur” dibawa suaminya kuliah di negeri orang.
Situasi di Dalam Bangkok Train Station

Setelah proses teaching practice selesai, dari pihak Valaya (akhirnya) menjamu kami makan dengan hidangan Thailand. Pada sesi ini pula saya mengeluarkan unek-unek mengenai ketidakcocokan program studi dengan matapelajaran yang diajarkan. Dan ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya, bahkan beberapa mahasiswa mengutarakan bahwa mereka mengajar mata pelajaran “Keaseanan” yang tidak ada kaitannya dengan bidang yang mereka pelajari. Tapi bagaimanapun juga, pada akhirnya kami berhasil melalui tahapan tersebut, dan pihak universitas berjanji akan memperbaiki masalah tersebut untuk kedepannya.
Jangan takut untuk melangkah dan keluar dari zona kenyamanan yang wah. Memang banyak hambatan dan rintangan, tapi Allah tidak akan membebani si hamba diluar batas kemampuan. Dan setelah selesai semua ujian, barulah sadar bahwa kita sudah naik tingkatan.
Surakarta, 26 Maret 2018

Zahrotunnisa

Jumat, 30 Maret 2018

Sendirian dalam Kebaikan itu Berat


Seperti tahun lalu, tahun ini masjid Nurul Huda UNS juga mengadakan Camping Qur’an diujung – awal tahun.

Enggak kayak tahun lalu, tahun ini saya benar-benar galau mau ikut atau enggak. Nggak ada temen lah, males kalau mules tapi antrian kamar mandi banyak lah, belum starter hafalan lah, lagi nggak ada uang yang lebih lah, dan banyak bisikan “lah” - “lah” yang lainnya. Sampai di H – 2 atau H - 3, akhirnya Allah bayar kontan keraguan itu. Saya dapet 50ribu cuma-cuma dari seseorang –yang semoga Allah selalu menjaganya-.  Mau nggak ikut? Malu lah sama Allah.

Enggak kayak tahun lalu, tahun ini saya nggak ada temen yang bener-bener ngejaga supaya enggak kabur dari masjid. Dulu ada Hasna sama Aisyah (yang udah saya anggap anak sendiri), jadi kalau balik mandi ke kos, mau nggak mau harus ke masjid lagi. Tahun ini? Sehari bisa balik dua kali ke kos, bahkan malam terakhir saya tidur di kos dan dua kali bolos setor. Sungguh, bisikan untuk malas adalah senjata setan yang nyata.

Enggak kayak tahun lalu, yang dikelompokan sama yang seperantaran, tahun ini saya dikelompokkan sama anak-anak SMP. Happy si, soalnya mereka enggak sadar kalau saya 10 tahun lebih tua, bahkan sama musyrifahnya juga dikira masih SMP. Tapi... bocah SMP itu emang bikin hasad (banget). Belum apa-apa udah setor berapa baris. Terus aja gitu, sampai tinggal berapa menit penutupan pun mereka masih “nafsu” nyetorin. Pengingat banget nih dari Allah, saya nyasar ke kelompok SMP biar sadar. Umur udah kepala berapa, tapi hafalan enggak seberapa.

Adanya teman dalam kebaikan bukan merupakan syarat utama, tapi kesendirian dalam kebaikan itu berat, kalau ringan dalam kesendirian namanya maksiat. Moga Allah selalu jaga kita. Karena terbukanya liang lahat, tidak menunggu diri ini bertaubat.

Cilongok, 30 Maret 2018

Senin, 26 Maret 2018

Membuat SKCK untuk Non-Domisili

Pada postingan ini saya akan menceritakan secara singkat proses pembuatan SKCK bagi teman-teman yang berada di perantauan dan belum bisa pulang ke daerah asal. Dengan catatan, SKCK yang dibuat masih dalam tingkatan kewenangan Polsek, misalnya sebagai syarat Melamar si dia Pekerjaan. Pembagian tingkatan kewenangan bisa dilihat secara lengkap di https://skck.polri.go.id/. Sebelumnya, saya sudah mencoba untuk membuat SKCK secara online, tapi  ternyata tetap harus diurus ke daerah asal. 

Gambar Tingkat Kewenangan

Berikut yang harus dilakukan untuk membuat SKCK non domisili:
  1. Pergi ke Polres terdekat, ingat ya, POLRES, bukan Polsek, dengan membawa: Fotokopi KTP 1 (satu) lembar dan Pas Foto 1 (satu) lembar ukuran 4 x 6 dengan background Merah. 
  2. Di Polres, nanti diarahkan untuk mengisi data diri dengan form yang sudah disediakan. Jangan lupa pas foto yang sudah disiapka, ditempel di form tersebut.
  3. Menunggu pemanggilan untuk scan sidik jari.
  4. Fotokopi hasil scan sidik jari seperlunya. Sedangkan yang asli diserahkan ke Polres bersama dengan selembar fotokopi KTP.
  5. Kirim hasil scan sidik jari, 6 lembar pas foto ukuran 4 x 6 background merah, fotokopi KTP, dan KTP asli (hanya untuk ditunjukan) ke rumah asal. Di sini perlunya peran orang rumah untuk proses selanjutnya.
  6. Untuk orang rumah, lengkapi berkas pembuatan SKCK, yaitu fotokopi KK terbaru dan fotokopi Akte / Ijazah terakhir. Semua berkas, dibawa versi aslinya, untuk ditunjukkan.
  7. Pergi ke Polsek dengan membawa berkas yang sudah disiapkan.
  8. Ambil - menunggu antrian, dipanggil, diproses, selesai~


Berdasarkan informasi dari Ketua RT di daerah kosan saya, SKCK juga bisa dibuat di daerah rantau, apabila SKCK akan digunakan untuk Melamar Pekerjaan di daerah tersebut. Persyaratan SKCK ditambah dengan surat keterangan domisili dari RT dan Kelurahan. Proses selanjutnya tetap berada di Polres.
Semoga bermanfaat.