Rabu, 13 Desember 2017

Nahan Laper

Hari pertama: Solo – Jakarta – Bangkok – Bang Pa-in, waktu itu, mungkin perjalanan paling jauh yang pernah saya alami. Di bandara Don Moeang saya cuma disambut sama buddy yang merupakan mahasiswa Valaya. Ketika sampai di dorm, ternyata nggak ada tuh sambutan makan atau apa kek. Satu yang saya rasain banget: haus. Tupperware saya udah kosong dari bandara Soeta, niat mau diiisi di Don Moeang, tapi enggak nemu kran air di sana. Saya jalan sekitar setengah kilometer ke minimarket, cuma buat beli air. Galon mini isi tiga liter seharga tiga puluh lima bath (ini seharga air isi ulang Aq*a 19 liter kalau beli di tempat Pak Anton, tukang galon samping kosan). Terus bawa galon mini itu ke dorm lagi, lantai tiga. Revisi, hari pertama: Solo – Jakarta – Bangkok – Bang Pa-in – plus 1 km jalan bolak-balik ke minimarket buat beli galon.

Awal-awal di sana, saya sama beberapa mahasiswa Indonesia diajak jalan-jalan sama salah satu buddy kami. Seharian kami muter-muter Future Park, tanpa ada tujuan. Sekitar jam empat sore, kami baru keluar dari mall itu. Kondisi badan capek, gerah... dan laper. Pas kami nunggu Van, di sekitar halte banyak yang jual sosis bakar. Serius! Itu sosis kelihatannya kok menggoda banget, merah ke jingga-jinggaan dipadukan sama saos tomat dan mayo. Nggak nyangka dua temen saya “ngitir” ke salah satu stand sosis bakar dan beli. Basa-basi, saya ngomong, “Itu yang kamu makan apa?”. Dia cuma nyeletuk, “Ini ayamm bukan babi!”. Saya mau ngomong kalau halal nggak cuma dari zatnya doang, tapi juga cara ngolahnya. Ah, terlanjur males duluan, ketelen di tenggorokan. Moga Allah ampuni saya.

Ternyata itu bukan kali pertama nafsu makan dihadapkan sama makanan enak yang belum tahu itu halal enggaknya. Saking sakleknya enggak mau makan sembarang, salah satu temen yang non Muslim tanya ke saya kenapa enggak mau makan, meski cuma ayam K*C, padahal temen-temen Muslim yang lain santai-santai aja makan. Simple aja, saya ngomong, nggak ada label halal, takut.

Beberapa hari nahan nafsu makan, akhirnya penempatan sekolah diumumkan. Saya – dari 16 mahasiswa Muslim yang ada-, satu–satunya yang ditempatkan di provinsi Ayuthayya, tepatnya di Chieng Rak Noi School. Di provinsi Ayutahyya ini, ada beberapa perkampungan Muslim, dan kebanyakan anak-anaknya bersekolah di Chieng Rak Noi School. Setidaknya ada 30% siswa bergama Muslim di sini. Saking menghargainya terhadap keberadaan siswa Muslim di sini, sekolah menyediakan satu ruangan untuk Mushola, dan... dua kantin yang menjual makanan halal. Kantin itu selalu ramai kalau pagi sama siang. Bahkan kalau pagi, banyak warga muslim sekitar sekolah yang ke sana cuma buat beli lauk atau sekalian sarapan bareng keluarga di sana. Dan di kantin ini lah saya mulai kenal sama Hawa, Fatima, dan Daela. Mahasiswa magang, yang jadi keluarga saya di sana. Ketika sakit, saya diboyong ke dorm mereka, dipanggilkan salah satu mahasiswa farmasi, Noorme. Ketika weekend nggak ada kegiatan, mereka ngajak ke Ramkhameng. Ketika saya mau pulang, Daela bela-belain bailk ke Pathani (1 jam naik pesawat atau 12 jam naik bus) cuma buat ngambil gamis yang dijahitkan ibunya buat saya.

Perasaan, saya tuh cuma nahan lapar sama haus doang, itupun cuma beberapa kali. Tapi, begitu banyak nikmat yang Allah kasih ke saya, tanpa batas. Maasyaa Allah! La in syakartum la aziidannakum, wa la in kafartum inna ‘adzaabii la syadiid.
Surakarta, 4 Desember 2017
16:25
Ketika bete ngolah data siklus II yang nggak kelar-kelar.
Ket. gambar: Dua ibu kantin halal yang sering bungkusin saya Khao man gai buat dibawa pulang.