Kalau biasanya, artikel-artikel mengangkat judul “Mendidik
Anak Semenjak dalam Kandungan” atau “Mendidik Anak Semenjak Dini” tapi saya
malah mau mendidik anak bahkan sebelum anak itu ada. Aneh ya? Ah, biarin, saya
ini emang anti mainstream kok, hehe.
Ceritanya nih, waktu Prodi Pendidikan Fisika ngadain AAI
(Asistensi Agama Islam) Akbar, eeeh, murrabiyah kelompok saya malah nggak dateng. Terus
akhirnya digabung sama kelompok AAI angkatan 2012, dengan murrabiyah yang bernama
Mba Sofi. Nah, mungkin karena sebentar lagi beliau ini mau wisuda, jadi
pembicaraan apapun seolah menjurus ke *ehm masalah pernikahan gitu. Saya si
seneng-seneng aja diajak ngobrol begituan, hehe. Misalnya aja nih, ketika kami
ditanyai, “Tujuan kalian AAI itu apa si?” terus waktu giliran saya, saya
ngejawab, “Buat charge Iman mba” tapi
Mba Sofi malah dengernya, “Buat cari imam mba”. Terus perbincangan dilanjutkan
dengan sesekali bahas masalah itu tuh :3
Sampai suatu ketika, Mba Sofi cerita tentang seorang
ustadzah yang punya sepuluh anak, saya ulangi, sepuluh anak, dan tujuh
diantaranya telah menjadi hafidz/hafidzoh. Dan yang tiga itu, satu masih
berumur tujuh tahun (kalau tidak salah sudah hafal 20 juz), yang satu masih
balita (hafal juz 30) dan yang terakhir masih bayi. Ternyata, sang ustadzah tadi punya resep rahasia
sehingga punya anak-anak yang luar biasa.
Ketika resep itu akan dibagikan oleh Mba Sofi, tiba-tiba pembawa
acara bilang kalau acara udah mau selesai. Yah sedih, padahal kan penasaran (pake)
banget sama resep itu. Tapi sudah mau
maghrib juga, yasudahlah, saya pendam (tapi nggak dalam) rasa penasaran itu.
Dan barusan (iya barusan, sebelum saya ngetik artikel ini),
saya ketemu Mba Sofi sama Mba Diah waktu mau registrasi ulang buat The Art of Teaching
(riskan kalau disingkat, nanti dikira emot yang alay itu). Terus Mba Sofi nyapa,
“Dek Zahro!” terus saya salim, dan naasnya saya lupa beliau ini siapa. Ayolah,
otak saya ini kurang bisa bekerja sama untuk menghafal nama ataupun wajah
orang. Terus akhirnya saya diingatkan oleh Mba Diah kalau belau ini Mba Sofi.
Bak jembatan yang menghubungkan satu neuron ke neuron lain, saya langsung
teringat perbincangan kami yang sempat terpending dulu. Segera saya ungsikan Mba Sofi untuk melanjutkan perbincangan itu (sedikit
memaksa, sedikit kok, iya sedikit).
Eh, Mba Sofi malah ketawa, dia bilang, nama sama wajah
orang bisa lupa dengan cepat, tapi bisa-bisanya
perbincangan dengan orang yang terlupakan malah bisa diingat. Ya bisa saja dong
mba, kan otak saya juga antimanstream,
#apaini :v
Alkhamdulillah, Mba Sofi mau melanjutkan conversation yang tertunda itu. Beliau
bilang, kalau sang ustadzah ternyata sudah mendidik anak-anaknya jauh-jauh hari
sebelum beliau menikah. Nah loh? Bagaimana bisa? Bisa dong! Kalau nggak bisa,
kenapa saya harus repot-repot bikin artikel ini :3
Ini
saya bingung mau nulis apa, kenapa malah nyangkut ke boyband itu? Ya sudah deh,
lanjut saja. Mba Sofi bilang, kalau musik itu bisa memudarkan bahkan
menghilangkan hafalan Qur’an. Padahal, bukankah ketika kita memiliki banyak
hafalan, maka kita tidak akan kesulitan dalam membantu anak kita kelak dalam menghafal
Qur’an bukan?
Saya
waktu nulis ini juga searching
sana-sini, terus dapat quote dari Imam Asy Syafi’i:
Aku
pernah mengadukan pada Waki’ tentang buruknya hafalaku
Maka ia pun menunjukiku untuk meninggalkan maksiat
Ia mengabarkan padaku bahwa ilmu adalah cahaya
Cahaya Allah tidak mungkin ditujukan pada orang yhang bermaksiat
(Dibahasakan secara bebas dari Risalah “Kayfa Tahfazul Qur’an
fii ‘Ashri Khutuwath”, hal. 33-34, Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, Darul
Hashnaroh)
Link: http://rumaysho.com/teladan/bagaimana-hilangnya-hafalan-al-quran-karena-musik-1451
Jadi, masih aja
nih milih musik dari pada masa depan anak-anak kita kelak? Kalau saya yang freak banget sama musik aja bisa
berkurang, masa kamu enggak?
Terus yang kedua,
kita kan masih muda (ya biarpun sebentar lagi kepala dua), kita masih mempunyai
banyak waktu luang. Nah, kita perbanyak tuh menuntut ilmu –maksud saya, ilmu parenting dong, hehe-, supaya kelak
ketika menikah, kita tidak perlu belajar secara mendadak. Karena kita sudah
mencicil pelajaran itu. Namun, saya kira bukan ilmu parenting saja yang perlu ditekankan. Namun juga ilmu-ilmu lainnya.
Masa iya, nanti ditanya sama anak kita, “Ibu, kenapa a = F/m ?” terus nggak
bisa jawab, hayoloh. Jadi orang tua juga kudu pinter, supaya bisa menginspirasi
anak-anak. Ya nggak? Iya dong. Makanya, yuk pada belajar –bukan cuma belajar
formal aja loh ya-, supaya anak-anak kita juga pintar nantinya. Ingat, seorang
Muslim kudu pintar!
Hmm, saya bingung
lagi nih mau nulis apa. Clonsing paragraph enaknya gimana? Ah, begini
saja, yuk perbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Supaya punya
suami dan anak-anak yang baik juga.
Ditulis pada:
Ahad, 23 Maret 2014.
17:42
Di Masjid NH lantai 2