Minggu, 23 Maret 2014

Mendidik Anak (bahkan) Sebelum Menikah

            Kalau biasanya, artikel-artikel mengangkat judul “Mendidik Anak Semenjak dalam Kandungan” atau “Mendidik Anak Semenjak Dini” tapi saya malah mau mendidik anak bahkan sebelum anak itu ada. Aneh ya? Ah, biarin, saya ini emang anti mainstream kok, hehe.
            Ceritanya nih, waktu Prodi Pendidikan Fisika ngadain AAI (Asistensi Agama Islam) Akbar, eeeh, murrabiyah kelompok saya malah nggak dateng. Terus akhirnya digabung sama kelompok AAI angkatan 2012, dengan murrabiyah yang bernama Mba Sofi. Nah, mungkin karena sebentar lagi beliau ini mau wisuda, jadi pembicaraan apapun seolah menjurus ke *ehm masalah pernikahan gitu. Saya si seneng-seneng aja diajak ngobrol begituan, hehe. Misalnya aja nih, ketika kami ditanyai, “Tujuan kalian AAI itu apa si?” terus waktu giliran saya, saya ngejawab, “Buat charge Iman mba” tapi Mba Sofi malah dengernya, “Buat cari imam mba”. Terus perbincangan dilanjutkan dengan sesekali bahas masalah itu tuh :3
            Sampai suatu ketika, Mba Sofi cerita tentang seorang ustadzah yang punya sepuluh anak, saya ulangi, sepuluh anak, dan tujuh diantaranya telah menjadi hafidz/hafidzoh. Dan yang tiga itu, satu masih berumur tujuh tahun (kalau tidak salah sudah hafal 20 juz), yang satu masih balita (hafal juz 30) dan yang terakhir masih bayi.  Ternyata, sang ustadzah tadi punya resep rahasia sehingga punya anak-anak yang luar biasa.
            Ketika resep itu akan dibagikan oleh Mba Sofi, tiba-tiba pembawa acara bilang kalau acara udah mau selesai. Yah sedih, padahal kan penasaran (pake) banget sama resep itu. Tapi sudah  mau maghrib juga, yasudahlah, saya pendam (tapi nggak dalam) rasa penasaran itu.
            Dan barusan (iya barusan, sebelum saya ngetik artikel ini), saya ketemu Mba Sofi sama Mba Diah waktu mau registrasi ulang buat The Art of Teaching (riskan kalau disingkat, nanti dikira emot yang alay itu). Terus Mba Sofi nyapa, “Dek Zahro!” terus saya salim, dan naasnya saya lupa beliau ini siapa. Ayolah, otak saya ini kurang bisa bekerja sama untuk menghafal nama ataupun wajah orang. Terus akhirnya saya diingatkan oleh Mba Diah kalau belau ini Mba Sofi. Bak jembatan yang menghubungkan satu neuron ke neuron lain, saya langsung teringat perbincangan kami yang sempat terpending dulu. Segera saya ungsikan  Mba Sofi untuk melanjutkan perbincangan itu (sedikit memaksa, sedikit kok, iya sedikit).
            Eh, Mba Sofi malah ketawa, dia bilang, nama sama wajah orang bisa lupa dengan cepat, tapi bisa-bisanya perbincangan dengan orang yang terlupakan malah bisa diingat. Ya bisa saja dong mba, kan otak saya juga antimanstream, #apaini :v
            Alkhamdulillah, Mba Sofi mau melanjutkan conversation yang tertunda itu. Beliau bilang, kalau sang ustadzah ternyata sudah mendidik anak-anaknya jauh-jauh hari sebelum beliau menikah. Nah loh? Bagaimana bisa? Bisa dong! Kalau nggak bisa, kenapa saya harus repot-repot bikin artikel ini :3
            Pertama, jangan mendengarkan musik-lagu, bahkan nasyid sekalipun. Intinya NO MUSIC. Saya terperagah (*tsaaah), teringat masa jahiliyah ketika begitu freak mengidolakan boyband dari Inggris itu. Alkhamdulillah Alloh masih memberi hidayah kepada saya dan perlahan (perlahan loh yah, per-la-han) mulai mengurangi intensitas mendengarkan lagu-lagu mereka, mengundurkan diri sebagai admin fanbase besar se-Indonesia, menghapus satu-persatu file yang berhubungan dengan mereka. Sulit? Course! Ini termasuk perjuangan berat yang pernah saya alami. Saya mulai banting stir (naik motor aja masih diragukan sama ibu saya, apalagi naik mobil :v), saya ganti lagu-lagu pengisi masa jahiliyah dengan murotal. Waktu itu tujuannya masih sebagai pengalih dari musik. Toh, yang murotalan juga banyak yang ganteng, Fatih Seferagic misalnya, *Eh.
Ini saya bingung mau nulis apa, kenapa malah nyangkut ke boyband itu? Ya sudah deh, lanjut saja. Mba Sofi bilang, kalau musik itu bisa memudarkan bahkan menghilangkan hafalan Qur’an. Padahal, bukankah ketika kita memiliki banyak hafalan, maka kita tidak akan kesulitan dalam membantu anak kita kelak dalam menghafal Qur’an bukan?
Saya waktu nulis ini juga searching sana-sini, terus dapat quote dari Imam Asy Syafi’i:
Aku pernah mengadukan pada Waki’ tentang buruknya hafalaku
Maka ia pun menunjukiku untuk meninggalkan maksiat
Ia mengabarkan padaku bahwa ilmu adalah cahaya
Cahaya Allah tidak mungkin ditujukan pada orang yhang bermaksiat

(Dibahasakan secara bebas dari Risalah “Kayfa Tahfazul Qur’an fii ‘Ashri Khutuwath”, hal. 33-34, Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, Darul Hashnaroh)
Link: http://rumaysho.com/teladan/bagaimana-hilangnya-hafalan-al-quran-karena-musik-1451
Jadi, masih aja nih milih musik dari pada masa depan anak-anak kita kelak? Kalau saya yang freak banget sama musik aja bisa berkurang, masa kamu enggak?
Terus yang kedua, kita kan masih muda (ya biarpun sebentar lagi kepala dua), kita masih mempunyai banyak waktu luang. Nah, kita perbanyak tuh menuntut ilmu –maksud saya, ilmu parenting dong, hehe-, supaya kelak ketika menikah, kita tidak perlu belajar secara mendadak. Karena kita sudah mencicil pelajaran itu. Namun, saya kira bukan ilmu parenting saja yang perlu ditekankan. Namun juga ilmu-ilmu lainnya. Masa iya, nanti ditanya sama anak kita, “Ibu, kenapa a = F/m ?” terus nggak bisa jawab, hayoloh. Jadi orang tua juga kudu pinter, supaya bisa menginspirasi anak-anak. Ya nggak? Iya dong. Makanya, yuk pada belajar –bukan cuma belajar formal aja loh ya-, supaya anak-anak kita juga pintar nantinya. Ingat, seorang Muslim kudu pintar!
Hmm, saya bingung lagi nih mau nulis apa. Clonsing paragraph enaknya gimana? Ah, begini saja, yuk perbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Supaya punya suami dan anak-anak yang baik juga.

Ditulis pada:
Ahad, 23 Maret 2014.
17:42
Di Masjid NH lantai 2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar