by Moi Zahrotun Nisa (Notes) on Monday, 10 June 2013 at 22:48
Ini
sebenarnya saya tulis waktu lagi mangkel-mangkelnya sama ujian
nasional. Meskipun hanya draftnya saja. Dan malam ini enatah karena apa
saya mau membagikannya dengan anda semua.
Dan seperti
biasanya, tidak ada pertanggung jawaban jika anda sakit hati setelah
membaca tulisan saya. Anda tidak saya paksa untuk membaca tulisan ini
kok.
==========
Ujian Nasional, seberapa yakin anda sekalian meyakini bahwa kecerdasan seseorang dapat diukur dari hasil UN?
Banyak
alasan untuk mendapat nilai bagus di UN. Pertama, anaknya memang pintar
(bisa dibuktikan dengan nilai hariannya yang bagus). Kedua, bejo (entah
kenapa Tuhan menciptakan orang bejo di dunia ini. Padahal kan kasihan
dengan orang pintar yang berusaha. Tapi ya wallohua'lam, mungkin orang
bejo ini lebih dekat dan didengar doanya oleh Tuhan). Dan yang ketiga,
hasil maksiat.
Iya maksiat. Dulu saya kira bocoran dan sms
kunci jawaban UN itu hanya isu belaka. Namun nyatanya? Baru terasa
setelah saya kelas XII dan mengalaminya sendiri. Calo dimana-mana,
menggembor-ngemborkan kepada siswa yang galau dan terombang-ambing
tentang kunci jawaban itu. Yang imannya kuat, digoyahkan lagi, "ATAS
NAMA PERTEMANAN", bantulah teman agar tidak membayar terlalu mahal kunci
maksiat itu. Setelah itu, uang halal yang diharamkan pun bertambah.
Bukan
hanya dikejutkan oleh itu. Bekas kos saya secara terang-terangan
menampung beberapa kelas dari sekolah X untuk menyalin kunci jawaban di
pagi harinya. Saya bangun jam lima pagi, dan anak-anak dari sekolah X
telah berpakaian seragam lengkap di ruang tamu, sibuk menyalin kunci
maksiat. Tidak tahu kenapa, orang awam (dalam hal ini si pemilik kos)
malah mendukung perbuatan seperti itu.
Keterkejutan
bertambah setelah saya berbincang dengan kakak sepupu saya yang juga
menjabat sebagai ketua komite di sebuah sekolah swasta di kampung saya.
Saya mengatakan tentang kecurangan itu, dan ternyata beliau menyimpan
kecurigaan terhadap sekolah yang ia pegang. Usut punya usut, guru di
sekolah swasta itu malah yang mengkordinir kunci maksiat. BUKAN LAGI
SISWA, TAPI GURU!
Pada akhir pembicaraan kami, kakak sepupu saya mengatakan "Lebih baik tidak lulus namun memiliki akhlaq mulia."
Saya hanya tersenyum kecut.
Masih berlaku kah kalimat itu di negara yang penuh maksiat ini?
Masih berlaku kah kalimat itu di negara yang anak bangsanya diajari korupsi (tidak jujur) semenjak dini?
Masih berlakukah kalimat itu?
Ketika
pengumuman UN, banyak status maupun twit yang menyatakan "Aku Lulus".
Sekarang, coba seberapa banyak orang yang akan memasang status dan twit
yang menyatakan "Aku Lulus dengan Jujur"?
==========
Well,
ini mungkin hanya coretan anak yang belum tahu seberapa terstrukturnya kasus kecurangan Ujian Nasional. Semoga kelak ketika saya sudah menjadi guru, saya dapat menjadi guru yang baik dengan sistem kependidikan yang lebih baik pula, aamiin.