Jum’at, 29 Januari 2016
Jogja sedang
panas-panasnya ketika saya tiba di Stasiun Tugu. Alhamdulillah, pihak KF
berhasil menemukan saya dengan mudah di antara puluhan penumpang kereta yang
beragam. Setelah menjemput saya, masih ada beberapa orang lagi yang harus
dijemput di beberapa tempat. Penjemputan berikutnya, saya bertemu Kak Nabila
yang bernadzar untuk ke salah toko buku di Jogja ketika baru sampai, ada juga
Kak Putri yang pada akhirnya menjadi kakak asuh saya selama di KF.
Kembali ke mobil
berkapasitas delapan orang itu, rasa kerdil mulai membayangi. Obrolan yang
tercipta (tentunya) berkisar pada sastra. Entah apa yang mereka bicarakan,
sungguh! Berbagai nama yang terdengar asing di telingaku mereka sebutkan satu
per satu. Di situlah saya -pada akhirnya- mensyukuri ketidakberdayaan tubuh ini
terhadap sengatan matahari yang terlalu banyak. Di mobil, lambat laut kesadaran
mulai menghilang.
Tak lama kemudian,
gedung Kampus Fiksi –yang hanya pernah saya lihat di foto- mulai nampak. Bangunan dilengkapi dengan
beberapa kamar tidur ukuran 3x3 meter, sebuah ruang meeting, dapur, dan kamar
mandi minimalis. Yang kesemuanya itu harus dibagi bersama ke-18 peserta lain.
Ya, hanya 19 peserta –termasuk saya-. Samping tempat duduk saya kosong, yang harusnya
diisi oleh Kak Zulfa dari Bogor, namun beliau berhalangan hadir.
Malam hari, acara dimulai
dengan perkenalan. Tak diduga, salah satu dari peserta ada Mba Nining, teman
satu SMA saya! Duh, bagaimana mungkin saya tidak menyadari keberadaannya? Dari perkenalan
ini pula saya tahu Mas Suki-ndar, asli Gunung Kidul. Penampilannya mirip sekali
dengan Uyan, salah satu tokoh di Sitkom Preman Pensiun itu. Tak ada yang
menduga kalau Uyan KW ini mengenyam pendidikan di prodi Pendidikan Fisika. Ada
pula peserta termuda, Dik Emma, yang baru memasuki semester dua. Dia salah satu
orang polos –maksud saya, benar-benar polos- yang pernah saya temui. Lalu ada
Kak Nani, yang mengingatkan saya pada seseorang yang keren. Dan ternyata beliau
tidak kalah keren dengan seseorang di ingatan saya.
Pembukaan acara secara formal
dilakukan oleh Bapak Rektor Kampus Fiksi, Edi AH Iyubenu –begitu nama penanya-.
Entah mengapa, saya menyukai nama belakang beliau: Iyubenu. Figur beliau
seperti Pak De saya. Dan ternyata, begitu pula pemikirannya. Saya mulai suka
dengan kondisi ini. Ada secercah harapan, mendoa, semoga besok saya bisa lebih nyambung jika teman-teman ngobrol tentang kepenulisan.
Sabtu, 30 Januari 2016
Diantara semua para
peserta, saya suka dengan Kak Banin yang sedang hamil 3 bulan tapi massanya tak
lebih dari 38 kg! Tahu kan, sayang pada pandangan pertama? Yang jelas, saya
suka sama Kak Banin. Titik! Dan itulah yang melatar belakangi saya untuk
memaksa beliau untuk duduk di kursi samping saya. Biarlah Kak Say-yid sendirian
di belakang sana.
Acara dimulai jam 8
pagi. Brainstroming bersama Kak Nisrina. Inti dari materi ini, jangan jadi
orang yang membosankan. Berilah kejutan, twist
pada tiap cerita yang dibuat.
Selanjutnya, saya tidak
ingat, sungguh. Di catatan saya hanya terdapat coretan:
Tulisan asyik?
(1) Pengetahuan di atas rata-rata,
(2) Penafsiran dan pengaruhi orang lain,
(3) Income (?).
Ide
(1) Imajinasi
(2) Unik
(3) Tips mencari ide:
Outline, dan disiplin dengannya
Judul, kalimat pembuka
Membuat kalimat lincah
Snapshot dan frase
Apa ini materi yang
diberikan oleh Kakak berkerudung biru tosca?
Acara berikutnya diisi
oleh Kak Ajjah. Saya ingat, soalnya beliau ini yang nantinya akan membimbing
kelompok saya. Beliau menyampaikan materi tetang self editing. Mungkin, diantara semua materi yang diberikan, hanya
materi ini-lah yang saya kuasai. Jangan jahat dengan editor dengan menyajikan
tulisan yang amburadul. Semakin apik
tulisan, semakin bahagia editor, semakin cantik polesan yang diberikan.
Dan acara yang ditunggu
pun tiba. Menulis cerpen dalam waktu -sepertinya- tiga jam. Tak banyak yang
saya ingat ketika menulis cerpen ini, kecuali saya bermain Deck Heroes dengan khusyuk ketika tulisan saya masih seperempat
halaman A4. Jangan ditiru. Saya sebenarnya tidak tahu harus menulis apa, dan
hampir menyerah begitu saja sampai tiba-tiba ide itu datang. Dan ketika sudah
mendapatkannya, tiga jam terasa lama.
Pesan moral: mencari
buku untuk landasan teori jauh lebih mudah daripada mencari inspirasi. Percaya
sama saya!
Minggu, 31 Januari 2016
Acara pagi diisi oleh
fans Kak Nabila, Nabila JKT 48 maksud saya. Mas Agus Mulyono, bloger, mantan
penjaga warnet yang terkenal gegara mengedit fotonya bersama Nabila JKT48. Dan,
sepertinya beliau harus nge-fans juga dengan Nabila KFXV. Bagaimanapun juga,
Kak Nabila berhasil menghidupkan suasana pada acara ini.
Kemudian dilanjutkan
dengan Om Damnuril Muhammad mengenai Kepenulisan di media. Dan sepertinya
beliau ingin menekankan: menulis itu bukan pekerjaan! Ada juga materi dari
editor-nya Raditya Dika, Bang Aconk. Tapi saya lupa beliau mengisi materi apa.
Catatan saya hanya berisi biodata beliau (?)
Lalu dilanjutkan dengan
mengulas cerpen yang sudah dibuat kemarin. Pada sesi ini, acara sepenuhnya
diserahkan pada mentor masing-masing kelompok. Kak Ajjah membagi cepen kelompok
saya secara acak. Refleks, saya
mencorat-caret EYD yang kurang tepat, penulisan yang salah, sampai jarak spasi
yang tidak teratur. Disitu lah Kak Ajjah menemukan bakat saya: menemukan kesalahan
orang. Semoga saja saya bisa menyalurkan bakat ini dengan benar.
Pada sesi ini pula saya
sedikit tertampar. AI –judul cerpen yang saya buat-, ternyata tidak bisa
ditangkap oleh sebagian besar orang yang membaca cerpen saya. Sedih juga si.
Tapi itu pembelajaran yang berharga. Tidak semua orang mengerti mengenai
hal-hal yang kita dalami, kita sukai. Dan sebagai seorang penulis, sudah
berkewajiban untuk menyampaikan pesan tersebut kepada siapapun. Seawam apapun
dia terhadap materi yang kita miliki. Saya masih harus banyak belajar.
Alhamdulillah, di sesi break, Kak Nabila dan Kak Nani berhasil
menangkap isi yang saya tulis. Terharu.
Di atas, hanya ulasan
formal menganai KFXV. Perlukah saya ulas mengenai bagaimana cara mengantri yang
baik ketika hanya ada tiga kamar mandi? Atau bagaimana cara agar tidak hilang
di Malioboro yang padat dan sesak? Atau bagaimana nikmatnya makanan yang
disajikan oleh panitia, baik makanan berat maupun makanan ringan? Ah, kalian
pun bisa megalami yang lebih dari itu jika berada di sini, di Keluarga Kampus
Fiksi!
Surakarta, 18 Maret
2016
pukul 21:07 WIB
Zahrotunnisa