Rabu, 29 Oktober 2014

Allah, maaf, kami sedang sibuk...


Kami sibuk menyelesaikan praktikum, sehingga tak bersegera menanggapi panggilan-Mu.
Kami sibuk mengerjakan laporan dan tugas, sehingga tak sempat mencari tempat yang layak untuk mengobrol dengan-Mu.
Kami sibuk memahami rentetan persamaan, sehingga tak sempat lagi untuk sekedar membaca surat cinta-Mu.
Kami sibuk mengejar deadline ini itu, sehingga tak sempat mempersiapkan deadline kematian yang selalu menunggu.

Allah, maaf, kami sedang sibuk...

Sabtu, 25 Oktober 2014

Catatan Hati Seorang Anak Kos 3

Anak kos, nggak bakal jauh-jauh dari urusan cucian. Solusi terbaik untuk menghindari cucian ya laundy. Apalagi sekarang banyak banget tuh promo-promo laundy, macam potongan harga untuk pelanggan baru, dapat tas laundy kalau udah ngelaundry sekian kilo, atau potongan harga dan laundry gratis kalau udah laundry beberapa kali. Pokoknya ada aja promo-promo menggiurkan yang dijanjikan tiap laundryan.

Suatu Minggu, ketika lagi mention-mention sama Abang, tiba-tiba dia bilang, "Udah dulu ya, gue mau off, mau nyuci dulu."

Serius, twit itu tuh berasa kamehameha yang menyerang saya secara langsung! Gimana enggak? 
Pertama : Dia itu cowok (iya lah :v)
Kedua : Dia anak rumahan (kalau dia nak kos, saya masih bisa tenang)
Ketiga : Dia Abang....(Jangan macam-macam ya, maksud saya itu, aktivitasnya sama aktivitas saya dari kuliah-praktikum-ngelesin itu nggak jauh-jauh beda. Tapi kenapa dia bisa meluangkan waktu buat... nyuci :/)

Sebenarnya, saya juga nyuci kok di kos, hanya saja diimbangi sama laundry. Perbandingannya satu : satu deh. Apalagi waktu kerudung Rabbani saya ada yang ilang di suatu laundryan, minggu berikutnya saya full nyuci. Ya biarpun dalam waktu setengah bulan, kerudungnya bisa balik, tapi tetep bete. Ya, anggap saja itu hidayah.

Hanya saja, saya itu rada males kalau nyuci di kos, soalnyaaa...
  1. Tangan saya rada sensitif gimana gitu kalau ketemu sama detergen, biasanya efeknya bisa sampai dua-tiga hari.
  2. Tali jemuran di kos saya itu tinggi banget kalau untuk saya. Jadi, kalau mau ngejemur  pakaian, saya kudu pakai kursi, atau lompat, atau cari titik terendah dari tali itu kemudian saya selempangin cucian dan tarik cucian dari bawah  supaya cucian berpindah ke titik yang lebih tinggi.
  3. Ember di kos saya kadang kurang banyak buat nyuci, kan nyucinya seminggu sekali. Jadi harus beberapa kali nyuci gitu, nggak bisa sekalian. Terus saya juga sukanya nggak campur-campur. Baju seragam sama baju seragam, kaos kaki sama kaos kaki, baju kuliah pisah sama baju di kos. Pokoknya pisahin, biar najisnya nggak tumpeh-tumpeh. Tapi karena idealis ini, saya jadi butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar mencuci.
  4. Nyetrika itu melelahkan... Lebih lelah daripada harus garap laporan praktikum. Ya kalau besok udah berkeluarga si nggak papa. Planingnya si saya mau nyettrika tengah malem kalau suami lagi nonton bola, pemanfaatan waktu gituuuhh..

Oke, saya nggak mau alasan lagi. Saya mau jadi ibu yang baik. Malu lah kalau misal suami aja bisa nyuci-masak, masa saya nggak bisa. Semoga saya selalu ingat postingan ini agar selalu semangat mencuci.

Oh iya, untuk teman-teman kelas saya, nanti kalau saya nikah, jangan ngado per individu, urunan aja Rp 50.000,00 buat beli mesin cuci terus kadoin ke saya :3

Senin, 06 Oktober 2014

Bukan Apes

Senin, 6 Oktober 2014

Bangun pagi seperti biasanya, bahkan tadi pagi saya sempat piket loh sebelum berangkat kuliah. Tapi ternyata Herti jauh lebih pagi ke kos saya. Jadi keburu-buru gimana gitu. Terus sampai gerbang belakang baru nyadar, "Her, aku nggak pake helm..."
"Yowes, piye meneh? (Yasudah, gimana lagi?)"
Ternyata itu hanya sebagian kecil dari apa yang saya lupakan. Di kelas, saya baru sadar kalau saya nggak bawa KRS sekelas, nggak bawa perkap kelas, nggak bawa apa lagi? Please udah, cukup segitu aja lupanya...
Ternyata...
Jam satu siang, murid saya sms, "Kakak, jangan lupa ya nanti sore..."  Saya mikir lama, lamaa banget, emangnya ada apa nanti sore? Dan wussshh.. jleb... neuron satu terhubung dengan neuron lainnya! Murid saya yang itu besok masih UTS, jadwalnya matematika, dan dia minta jadwal les di pindah dulu sehari. Saya diem, merenung... kenapa saya nggak nulis rencana itu di agenda? Kenapa saya lupaaa... kenapa... kenapaaa... uwooo... uwooo....
Oke, saya akhirnya mencoba untuk berakselerasi. Niatnya saya mau ngebut buat garap tugas Teknik Pembelajaran. Gampang si, cuma buat rangkaian lampu sederhana... hmmm... iya gampang.
FYI aja yah, kelompok saya itu kelompk gado-gado, kelompok campur-campur, kelompok sisa. Soalnya kemarin bentuk kelompoknya urut absen. Coba absennya itu menurut huruf hijaiyah, masa iya saya di aben akhir. Intinya, kelompok saya itu ada yang dari kelas sebelah, kakak tingkat, sama anak yang waktu pembagian kelompok nggak masuk. Dan kalian tahu, betapa susahnya menyatukan orang dengan kesibukan yang berbeda... Saya tunggu dari jam dua hingga mau setengah empat, hanya Latifah seorang yang datang.... Akhirnya saya pergi ngelesi sebentar, saya pikir, nanti kelompok saya juga datang kok. Toh udah ditelepon, di-sms, semoga..
Ketika saya datang ke lobi, sekitar mau Maghrib, eh... cuma seorang saja disana. Sedang menunggu... iya, menunggu.... Latifah....
Disaat kelompok lain sudah menyelesaikan tugasnya, kelompok saya ngumpulin alat dan bahan juga belum, sakitnya tuh di mana-manaaa....
Dengan sisa kekuatan dari gado-gado yang saya makan di kantin gedung A, saya cari alat bahan di sekitar kampus. Alhamdulillah, dapat, biarpun seadanya... Yang penting dapat, titik.
Saya sama Latifah mulai merangkai, dan Mas Pur akhirnya datang dengan celana jeans robek. Kan orang yang liat jadi risi, "Mas, itu celanamu digigit tikus apa gimana?"
"Engga dek, aku jatuh terus robek."
"Lakban aja!"
"Hmm... oke"
Dengan kehadirannya, dua lampu berhasil didirikan dengan sempurna. Lampunya doang loh ya...
Makin malam, lobi malah makin penuh. Kelas tetangga juga banyak yang di lobi. Dan anak-anak kimia juga tiba-tiba kayak mau piknik, sampai gelar-gelar alas duduk sekalian.
Nah, ketika Ihsan datang (dia ini kelas tetangga yang ikut kuliah tekpem di kelas saya), tiba-tiba lobi menjadi riuh, semua orang seolah sedang berlomba meneriakan namanya "Ihsaaan! Ihsaaan!". Termasuk saya! Ternyata... dia juga sedang ada tugas bersama kelompok-kelompok lain... Bingung nggak tuh? Hmmm... alhamdulillah si dia ikut ngerjain tekpem dulu.
Setelah kelompok dipersatukan, hanya dengan waktu dua jam, tugas berhasil diselesaikan! Diselesaikan doang loh yah... Ah, pokoknya selesai. Padahal kelompok lain digarap dari habis Dzuhur sampai Maghrib.
Cobaan belum selesai, ketika mau pulang, motor saya ternyata dihimpit oleh motor-motor anak kimia. Nggak ada pilihan, angkat-geret-pindah satu-satu motor yang menghalangi. Aku strooooongg... Sekian.