RESUME SPN PERTEMUAN KEEMPAT
Pembicara :
Ibu Musdalifah
Waktu :
Ahad, 6 November 2016
Tempat :
Ruang Seminar NHIC
Peresume : Rita Kurniasari
Allah
menciptakan seorang manusia sekaligus juga sudah menyiapkan pasangannya seperti
firman-Nya dalam surat An-Nisa’ ayat yang pertama. Sehingga sebagai seorang
yang masih lajang tidaklah perlu risau akan jodohnya nanti. Hal yang perlu
dilakukan ialah mempersiapkan diri sebaik mungkin sampai datang waktu dimana
jodoh dipertemukan hingga menuju pernikahan.
Dua
kisah pernikahan yang sangat menginspirasi dalam Islam yang keduanya adalah
pernikahan monogami. Pertama, kisah antara Rasulullah SAW dengan ibunda
Khadijah. Khadijah merupakan seorang janda dan saudagar kaya raya yang pasti
banyak orang mengincar untuk menikahinya. Suatu ketika Khadijah meminta
Rasulullah untuk menjualkan barang daganganya ke Syam dan Rasulullah pun
menerimanya. Rasulullah berangkat ke negeri Syam ditemani oleh Maisaroh, orang
yang disediakan oleh Khadijah untuk membantu berdagang. Rasulullah berdagang
dengan sangat jujur, cerdas, tekun, dan keuntungan yang didapatkan sangat
banyak. Hal ini membuat Maisaroh heran, ia belum pernah menemui penjual dengan
keuntungan sangat banyak seperti itu. Maisaroh memberitahukan tentang
Rasulullah tersebut kepada Khadijah dan membuatnya mengagumi Rasulullah SAW.
Khadijah lalu menceritakan ketertarikannya terhadap Rasulullah kepada
sahabatnya Nafisah. Nafisah lalu memberitahukanya kepada Rasulullah dan beliau
memberitahu hal ini kepada pamannya. Kemudian paman Rasulullah mendatangi paman
Khadijah dan merundingkan hal tersebut. Akhirnya didapatkan keputusan bahwa
paman dari keduanya setuju untuk menikahkan Rasulullah dengan Khadijah.
Kisah
kedua adalah pernikahan antara Ali bin Abi Thalib dengan Fatiman binti
Muhammad. Sejak kecil Ali dan Fatimah sudah tinggal bersama di rumah Rasulullah
SAW. Ali pun sudah menyukai Fatimah sedari kecil, namun ia tak pernah
mengungkapkan perasaaanya itu pada siapa pun. Setelah menginjak usia dewasa,
mulai berdatangan lelaki yang hendak menikahi Fatimah. Orang pertama yang
datang untuk melamar adalah Abu Bakar akan tetapi Rasulullah hanya terdiam yang
artinya lamaran tersebut ditolak. Setelah itu datanglah Umar yang ingin melamar
Fatimah tetapi Rasul pun hanya diam. Beliau lalu memanggil Ali. Ali mengira
bahwa Rasul memanggilnya dengan maksud untuk memintanya menyiapkan pernikahan
antara Fatimah dan Umar. Setelah Ali menghadap Rasulullah, ia ditanya maukah
menikahi Fatimah, putrinya. Akhirnya Ali pun menikahi Fatimah. Kedua kisah
pernikahan tersebut tidak diawali dengan saling pendekatan apalagi pacaran.
Seperti itulah Islam mengajarkan untuk tidak berpacaran dalam upaya mencari
jodohnya.
Bagaimana
dengan wanita-wanita di masa kini? Wanita masa kini bisa dibagi menjadi tiga
tipe. Pertama, wanita pemimpi. Wanita tipe ini ketika mengagumi seseorang maka
seringkali sampai terbawa mimpi. Ia bahkan percaya bahwa mimpi itu merupakan
petunjuk dari Allah untuk memperlihatkan jodohnya yang sesungguhnya. Padahal
apa yang dialami dalam mimpi belum tentu itu petunjuk yang sebenarnya dari
Allah, bisa saja itu hanya buah mimpi. Maka jangan jadi pengikut mimpi dan
menjadi wanita pemimpi. Kedua, wanita penebar pesona. Wanita tipe ini menarik
perhatian tidak hanya dari penampilan tapi juga bisa dari kecerdasan,
keramahan, dari cara bicara, dan lain sebagainya. Tapi terkadang wanita tidak
sadar akan daya tariknya tersebut. Maka sebagai wanita harus berhati-hati
menjaga sikap dan perilaku dimana pun berada. Ketiga, tipe wanita mudah jatuh
cinta. Wanita ini sangat mudah bersimpatik pada lelaki hanya karena hal sepele.
Tapi hal ini tidaklah baik jika diperturutkan terus menerus. Hal ini harus
dikendalikan agar tidak menyimpang dari jalan yang benar.
Selama
jodoh belum datang, maka ada beberapa kegiatan produktif yang bisa dilakukan,
seperti :
1. Fokus
pada amanah
Mempersiapkan
masa depan memang sangat penting akan tetapi jangan sampai hal itu menyita
sebagian besar waktu. Tetap fokus pada amanah yang sekarang diemban agar bisa
dijalankan dengan baik seiring dengan mempersiapkan masa depan.
2. Fokus
pada perbaikan diri
Selagi
menunggu datangnya jodoh maka perlu instropeksi diri mencari kelemahan dan
kekurangan diri sendiri. Setelah mengetahui kelemahan dan kekurangan diri
kemudian mencoba untuk membenahi diri menuju yang lebih baik.
3. Fokus
pada persiapan
Persiapan
yang diperlukan antara lain secara ma’nawiyah, fikriyah, jasadiyah, dan
maliyah. Kematangan ma’nawiyah tak selalu seiring dengan kematangan biologis
atau bertambahnya usia seseorang. Ada orang yang secara usia terlihat sudah matang
akan tetapi ketika sudah hidup berumahtangga tak cukup dewasa untuk mengahadapi
hal baru yang dialaminya. Menyatukan dua karakter yang berbeda dalam sebuah
ikatan pernikahan merupakan hal yang tidak mudah dan perlu dipersiapkan.
Persiapan fikriyah tidak bisa instan perlu dipelajari salah satunya dengan
sekolah pra nikah. Persiapan jasadiyah yaitu dengan menjaga kesehatan organ
reproduksi, mengatur pola makan yang sehat, aktivitas yang sesuai dengan
kapasitas tubuh dan rajin berolahraga. Perispan maliyah juga cukup penting bagi
wanita karena tidak tahu nantinya akan mendapatkan suami yang seperti apa.
Belum tentu kondisi suami nanti sudah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga
atau belum. Hal ini pun bisa menjadi ladang pahala bagi sang istri jika turut
membantu menafkahi keluarga.
Tantangan mencari jodoh bisa datang
dari mana saja baik karena faktor internal maupun eksternal. Faktor internal
yang biasa dijumpai adalah idealisme diri yang terlalu tinggi. Memiliki standar
itu penting tapi juga harus melihat kondisi diri sendiri. Faktor eksternal bisa
datang dari pihak keluarga yang memang
memiliki patokan tertentu dalam memilih jodoh. Kesiapan pihak ikhwan juga
terkadang bisa jadi penghalang untuk segera melangsungkan pernikahan. Budaya
masyarakat tertentu juga bisa menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan
jodoh.
Selama menantikan jodoh yang belum
datang, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Menjaga
pandangan
Menjaga
pandangan di jaman sekarang haruslah lebih berhati-hati dan memang tidak mudah.
Jika jaman dulu ketika ada yang mengumbar pandangan bisa langsung terlihat
jelas, sekarang hal ini bisa saja tidak ada orang lain yang menyadari. Peranana
dunia maya sangat membantu dalam hal menebar pandangan ini karena kita bisa
memandang siapa saja selama waktu yang diinginkan tanpa ada orang lain yang
melihat.
2. Menutup
aurat secara sempurna
Mengenakan
pakaian yang menutup aurat memang sudah menjadi syari’at Islam. Pakaian tidak
hanya menutup aurat tetapi yang bisa menjaga lekuk tubuh dan tidak mengundang
perhatian terutama dari lawan jenis.
3. Menghindari
berlembut-lembut suara di hadapan lelaki bukan mahram.
Hal
ini karena lelaki mudah terpancing hanya dengan mendengar suara wanita apalagi
suara yang dilembut-lembutkan.
4. Menghindari
khalwat
Khalwat
ialah berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Khalwat tidak hanya
dilakukan secara fisik saja akan tetapi bisa melalui dunia maya. Khalwat di
dunia maya ini lebih berbahaya karena tidak bisa dengan mudah dideteksi.
Mengalami kegalauan di masa penantian
merupakan hal yang wajar terjadi, maka perlu diatasi dengan cara berikut :
1. Ikhtiar
dengan cara yang baik
2. Bertawakkal
kepad Allah setelah melakukan ikhtiar secara maksimal
3. Meminta
pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat
4. Memperbanyak
beristighfar