Saya
Zahrotunnisa, dari Prodi Pendidikan Fisika 2013. Saya merupakan satu dari 6
mahasiswa FKIP UNS yang beruntung karena berkesempatan menjejakan kaki di
negara lain dalam program PPL Internasional yang diadakan oleh SEAMEO. Saya
ditempatkan di Valaya Alongkorn Rajabhat University, bersama 16 mahasiswa
Indonesia lainnya dan 2 mahasiswa Filipina. Jika dibandingkan teman-teman lain
dari UNS, mungkin saya tergolong yang paling “ngenes”. Tapi dari ke-“ngenes”an
itu lah saya belajar banyak hal.
Awal
kedatangan, saya dijemput oleh para buddy,
kemudian langsung diantar ke dorm. Sesampainya di dorm, ada rasa capek, lapar,
dan yang paling dominan, haus! Dan di dorm tidak ada fasilitas air minum.
Akhirnya dengan tenaga yang masih tersisa, saya berjalan sejauh 800 m untuk
memberi air galon ukuran 6 liter, yang kemudian diangkut sejauh 800 m (lagi). Makanan
pertama saya adalah mie instan (yang saya bawa dari Indonesia) yang dimaksak
dengan heater seadanya. Hari-hari berikutnya, saya mencari sumber pangan di
Pasar Khong Lua, bisa beli ikan goreng, nasi, dan buah-buahan. Kalau sedang
benar-benar capek, saya “terpaksa” mengeluarkan uang lebih untuk membeli
makanan halal siap saji di 7eleven.
Penjemputan Oleh Para Buddy
Pasar Khong Lua
Beberapa
hari setelah kedatangan, akhirnya pembagian sekolah diputuskan. Saya mengajar
di Chiengraknoi School, dengan Kru Song sebagai guru pamong saya. Kabar
baiknya, Chiengraknoi merupakan sekolah dengan populasi siswa Muslim yang
mencapai 30%, sehingga tersedia dua kantin yang menyediakan makanan halal. Biasanya
saya akan brunch di sana, dan membeli seporsi khao man gai untuk dibawa ke dorm sebagai makan malam. Kabar
buruknya, ternyata saya diharuskan mengajar bahasa Inggris di kelas 4 dan 6.
Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang materi pada pelajaran Bahasa Inggris
dan psikologi anak sekolah dasar. Tapi bagaimana lagi, ini tantangan yang mau
tidak mau harus saya selesaikan. Alhasil, beberapa malam setelahnya, saya aktif
menacari referinsi baik materi maupun rencana pembelajaran. Karena buku teks dan rencana pembelajaran yang ada
di sekolah, semua menggunakan Bahasa Thailand, dan saya sama sekali tidak ada
gambaran tentangnya.
Gerbang depan Chiang Rak Noi School
Kantin Halal di CRN School yang Selalu Ramai di Pagi dan Waktu Istirahat
Pada
tahap awal, yang saya lakukan adalah observasi kelas. Dalam bidang teknologi,
di kelas saya sudah menggunakan smartboard,
komputer yang terkoneksi dengan internet, dan set mikrophone – speaker. Namun,
untuk proses pembelajaran, tahapnya hampir sama degan pembelajaran di Indonesia.
Ketika guru belum datang, siswa akan berbaris dengan rapi di depan kelas
sembari menunggu. Kelas dimulai dengan berdoa, kemudian guru memberikan motivasi
dan nasehat dengan posisi siswa diam menunduk, baru kemudian pembelajaran
seperti biasa. Dalam proses mengajar, saya benar-benar kaget ketika mendapati
guru memukul siswa. Selama proses observasi, beberapa kali saya menyaksikan
siswa dipukul, tapi mereka hanya diam menunduk. Kalau di Indonesia, pasti sudah
heboh yah. Oh iya, guru itu wajib datang sebelum siswa, kemudian para guru akan
berjejer di gerbang untuk menyambut siswa yang datang. Setiap hari, di sekolah
selalu mengadakan upacara bendera loh, dan tidak ada siswa yang pura-pura sakit
lalu mundur ke belakang.

Kondisi Kelas Ketika Tahap Observasi
Upacara Bendera Setiap Pagi
Siswa yang Baru Datang Diperintahkan untuk Mencabuti Rumput
Setelah
observasi, saya menjadi asisten guru dalam mengajar selama beberapa hari, dan
kemudian baru mengajar secara mandiri. Meskipun, pada prakteknya, saya selalu
dibantu oleh Kru Song untuk menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa
Thailand, begitu pula sebalikanya. Sampai akhrinya, evaluator dari universitas
datang untuk menilai. Semua terkondisikan dari awal, apa yang harus saya
ajarkan, dan media apa saja yang akan saya gunakan. Setelah mengajar, saya
mendapat masukan dalam pembelajaran yang saya lakukan. Tapi, evaluator malah
banyak bertanya mengenai nama saya yang hanya satu kata, kenapa tidak ada nama
marga, kenapa suka mengajar, dan perbincangan ringan lainnya.
Selama
saya berada di Chiengraknoi, saya pernah diajak berdarma wisata ke daerah
Ayuthayya. Melihat beberapa pasar apung, drama panggung dan pusat oleh-oleh di
sana. Pada acara perpisahan, kebetulan bertepatan dengan hari Sang Ratu,
sehingga diadakan acara yang meriah. Banyak tarian dan drama pentas yang
diperlihatkan. Saya juga berkesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia
dengan mengenakan pakaian Kebaya dan menyanyikan beberapa lagu daerah. Sampai
di penghujung acara, yaitu perpisahan dengan siswa.
Darma Wisata CRN School
Farewell Party
Di
luar hal pembelajaran, ada hal yang sangat membekas di hati saya: Mahasiswa PPL
Valaya. Mereka banyak sekali membantu saya. Game, setiap pagi menunggui saya
untuk menyetop van sam sam paet (jurusan 338). Oi, menjadi teman dekat saya
meski dia tidak begitu mengerti Bahasa Inggris. Dan... teman-teman Muslim yang
ada di sana, Daela dan Hawa. Mereka kebanyakan berasal dari Pathani, Thailand
Selatan. Mereka ini lah yang sudah saya anggap saudara sendri. Ketika saya
sakit, mereka memboyong saya ke dorm mereka. Ketika saya mengeluh tentang
susahnya mencari makanan halal, mereka mengajak ke cafe halal yang ternyata
dekat dengan univeritas. Ketika saya hendak pulang ke Indonesia, mereka
mengajak saya jalan-jalan ke Ramkhamhaeng, dan mengenalkan saya dengan komunitas
mahasiswa Muslim di sana.
Dorm Mahasiswi Muslim Valaya Alongkorn Rajabhat University
Ketika
akhir pekan (tetunya jika tidak ada agenda dari universitas) saya biasanya
“mbolang”. Saya pernah jalan ke Asian Institute Technology (AIT) hanya bermodal
Google Map dan pertemanan dengan seorang ibu yang saya add di facebook. Di AIT
ini saya merasa pulang ke rumah. Mahasiswa Indonesia di sana ramah-ramah,
bahkan mau “menampung” saya selama dua hari. Mereka mengajak saya jalan-jalan ke
Bangkok bersama ibu-ibu lain, dan mengajari saya naik Bangkok Train Station (BTS).
Sungguh, BTS itu keren, cepat, murah, dan jarak kedatangan kereta hanya 5 – 10
menit. Tidak perlu menunggu lama. Di dalam kereta pun nyaman. Tapi saya tetap
diperingatkan untuk selalu waspada dan menaruh tas di depan. Overall, saya happy berkeliling Bangkok
dengan ibu-ibu yang “terlanjur” dibawa suaminya kuliah di negeri orang.
Situasi di Dalam Bangkok Train Station
Setelah
proses teaching practice selesai,
dari pihak Valaya (akhirnya) menjamu kami makan dengan hidangan Thailand. Pada
sesi ini pula saya mengeluarkan unek-unek mengenai ketidakcocokan program studi
dengan matapelajaran yang diajarkan. Dan ternyata bukan hanya saya yang
mengalaminya, bahkan beberapa mahasiswa mengutarakan bahwa mereka mengajar mata
pelajaran “Keaseanan” yang tidak ada kaitannya dengan bidang yang mereka
pelajari. Tapi bagaimanapun juga, pada akhirnya kami berhasil melalui tahapan
tersebut, dan pihak universitas berjanji akan memperbaiki masalah tersebut
untuk kedepannya.
Jangan
takut untuk melangkah dan keluar dari zona kenyamanan yang wah. Memang banyak
hambatan dan rintangan, tapi Allah tidak akan membebani si hamba diluar batas
kemampuan. Dan setelah selesai semua ujian, barulah sadar bahwa kita sudah naik
tingkatan.
Surakarta,
26 Maret 2018
Zahrotunnisa