Apa yangharus dilakukan ketika ada binatang buas masuk ke dalam kos?
a. Teriak
b. Berlari keluar kos
c. Mencari pertolongan sesegera mungkin
d. Apatis
e. Mencoba menjinakannya
Kira-kira, apa jawabanmu jika mendapat pertanyaan seperti itu?
Masih bingung menjawabnya? Berikut terdapat kasus yang bisa Anda analisis untuk menemukan jawabannya.
Selasa, 26 Agustus 2014
23:30 - 23:40 (sekitar pukul itu)
Seorang teman kos tiba-tiba menggedor-gedor kamar saya. Biasanya saya juga masih terjaga, tapi malam itu entah kenapa saya tidur lebih awal. "Nisa! Bangun Nis! Keluaaar! Ada ular masuk!"
Setidaknya kalimat itu yang saya dengar secara berulang-ulang. Alhamdulillah, saya bisa menguasai diri saya dengan cepat. Ternyata, beberapa menit yang lalu, dua orang dari kami melihat ular hitam-panjang yang tiba-tiba merayap dengan cepat ke dalam kos. Mereka berdua lari dan teriak-teriak, membangunkan seisi kos, kecuali saya...
23:45
Anak-anak kos sudah berada di luar kos. Saya mau ke luar, tapi dingin, dan kebelet pipis pula. Mau ke kamar mandi? Takut. Jangan-jangan ularnya sembunyi di situ lagi. Yasudah, daripada menambah rasa kebelet, saya ngungsi di kamar Mba Yasmin yang juga nggak ikut ke luar.
Pertolongan pertama datang. Ada mas-mas yang masih pacaran di halaman kos. Seorang dari kami meminta tolong kepada Mas itu. Masa bodo dengan pacarnya yang langsung pasang muka nggak ngenakin. Mas-masnya cukup berani. Buktinya, dia langsung masuk kos tanpa bawa apapun! Dia masuk gudang, angkat kardus, liatin kolong, tapi si ular kayaknya pemalu. Jadi ularnya nggak ketemu. Mas-masnya akhirnya keluar kos, disuruh pulang kayaknya sama si pacar. Yasudah, pertolongan pertama hanya sebatas itu.
23:55
Hanya seleng bebarapa menit setelah Si Mas tadi pulang, salah satu dari kami menemukan si ular. Ular itu ternyata bersembunyi di balik lemari di salah satu kamar kos. Dengan cepat, kamar tersebut ditutup dengan rapat.
Rabu, 27 Agustus 2014
00:01
Saya ikutan ke halaman kos yang sudah ramai. Bahakan blok C-D-E-F banyak yang terbangun. Tapi mereka hanya sekedar menengok dari jendela kamar dan kembali tidur. Kami terus menghubungi Mas Agus (anak pemilik kos), namun sepertinya ia sangat lelap. Kami juga menghubungi tetangga sekitar yang ehm, LAKI!
Berikut salah satu percakapan yang saya dengar dari teman-teman saya yang mencoba menelepon temannya.
"Eh, kamu ke kos aku dong, ada ular nih!!!" teman saya diam, mendengarkan suara di sebrag sana, "Apa? Takut? Ih! Besok aku bawain kerudung buat kamu!"
Sampai seorang dari kami menyadari...
"Nisaaa!! Di depan Al-Banna ada kosbin FKIP kan? Telepon salah satu dari mereka dong! Bila perlu suruh rame-rame datang ke sini!" Saya diam, lamaaaa... mencoba untuk mengucapkan kalimat yang pas. "Ayo Nis! Keburu ularnya bisa keluar!" Saya menarik napas panjang, "Nisa nggak punya nomor mereka mba. Iya si, satu dari mereka kakak tingkat, satu seorganisasi, tapi Nisa kan males nyimpen-nyimpen nomor orang..."
Kini giliran orang-orang yang terdiam
Tidak lama kemudian, seorang dari kami berhasil menghubungi Mas Agus. Bak air di gurun yang panas... sangat menyejukan. Menit-menit berikutnya adalah penantian panjang....
00:07
Mas Agus datang dengan perlengkapan seadanya. Hanya berbekal senter topi dan sebuah tongkat, Mas Agus masuk ke dalam kamar dengan ular menanti di dalamnya.
Beberapa saat kemudian, seorang anak gendut dan kurus-tinggi juga datang ke kos kami. Mereka itu ternyata yang diancam akan dibawakan kerudung jika tidak membantu kami. Ketika ditanya kenapa mereka lama sekali, mereka hanya nyengir sembari menjawab. "Nyari ranting..."
Pergelutan luar biasa terjadi antara Mas Agus dengan si ular, ternyata dia membutuhkan pertolongan. Dua anak laki-laki tadi saling berpandangan, "Kamu aja yang masuk!" ucap seorang dari mereka. "Enggak, kamu aja!!!"
Setelah berapa lama, Mas Agus berhasil memecahkan kepala si ular. Alhamdulillah...
00:18
Kasus terselesaikan
Pesan Moral:
1. Tidak semua Super Hero punya jubah dan memakai topeng
2. Carilah suami yang tidak takut ular dan bisa melindungi keluarganya
3. Jangan males nyimpen nomer ponsel orang, apalagi tetangga sekitar. Sekian.