Selasa, 11 Juni 2013

Ganti "Aku Lulus" Menjadi "Aku Lulus dengan Jujur", Berani?

by Moi Zahrotun Nisa (Notes) on Monday, 10 June 2013 at 22:48


Ini sebenarnya saya tulis waktu lagi mangkel-mangkelnya sama ujian nasional. Meskipun hanya draftnya saja. Dan malam ini enatah karena apa saya mau membagikannya dengan anda semua.

Dan seperti biasanya, tidak ada pertanggung jawaban jika anda sakit hati setelah membaca tulisan saya. Anda tidak saya paksa untuk membaca tulisan ini kok.

==========


Ujian Nasional, seberapa yakin anda sekalian meyakini bahwa kecerdasan seseorang dapat diukur dari hasil UN?
Banyak alasan untuk mendapat nilai bagus di UN. Pertama, anaknya memang pintar (bisa dibuktikan dengan nilai hariannya yang bagus). Kedua, bejo (entah kenapa Tuhan menciptakan orang bejo di dunia ini. Padahal kan kasihan dengan orang pintar yang berusaha. Tapi ya wallohua'lam, mungkin orang bejo ini lebih dekat dan didengar doanya oleh Tuhan). Dan yang ketiga, hasil maksiat.

Iya maksiat. Dulu saya kira bocoran dan sms kunci jawaban UN itu hanya isu belaka. Namun nyatanya? Baru terasa setelah saya kelas XII dan mengalaminya sendiri. Calo dimana-mana, menggembor-ngemborkan kepada siswa yang galau dan terombang-ambing tentang kunci jawaban itu. Yang imannya kuat, digoyahkan lagi, "ATAS NAMA PERTEMANAN", bantulah teman agar tidak membayar terlalu mahal kunci maksiat itu. Setelah itu, uang halal yang diharamkan pun bertambah.

Bukan hanya dikejutkan oleh itu. Bekas kos saya secara terang-terangan menampung beberapa kelas dari sekolah X untuk menyalin kunci jawaban di pagi harinya. Saya bangun jam lima pagi, dan anak-anak dari sekolah X telah berpakaian seragam lengkap di ruang tamu, sibuk menyalin kunci maksiat. Tidak tahu kenapa, orang awam (dalam hal ini si pemilik kos) malah mendukung perbuatan seperti itu.

Keterkejutan bertambah setelah saya berbincang dengan kakak sepupu saya yang juga menjabat sebagai ketua komite di sebuah sekolah swasta di kampung saya. Saya mengatakan tentang kecurangan itu, dan ternyata beliau menyimpan kecurigaan terhadap sekolah yang ia pegang. Usut punya usut, guru di sekolah swasta itu malah yang mengkordinir kunci maksiat. BUKAN LAGI SISWA, TAPI GURU!

Pada akhir pembicaraan kami, kakak sepupu saya mengatakan "Lebih baik tidak lulus namun memiliki akhlaq mulia."

Saya hanya tersenyum kecut.
Masih berlaku kah kalimat itu di negara yang penuh maksiat ini?
Masih berlaku kah kalimat itu di negara yang anak bangsanya diajari korupsi (tidak jujur) semenjak dini?
Masih berlakukah kalimat itu?

Ketika pengumuman UN, banyak status maupun twit yang menyatakan "Aku Lulus". Sekarang, coba seberapa banyak orang yang akan memasang status dan twit yang menyatakan "Aku Lulus dengan Jujur"?

==========

Well, ini mungkin hanya coretan anak yang belum tahu seberapa terstrukturnya kasus kecurangan Ujian Nasional. Semoga kelak ketika saya sudah menjadi guru, saya dapat menjadi guru yang baik dengan sistem kependidikan yang lebih baik pula, aamiin.

1 komentar:

  1. Inget pas dulu menjelang UN di MAN, kata temen2 yg ikut "rapat" (saya gak ikut karena pas jadwalnya bolos, xoxo), guru + TU nantang murid2 yg berani ngerjain soal UN tanpa "bantuan" dari mereka bakalan dikasih BB. Tapi gak ada satu pun yang mau. :D

    Blog walking here, kunjungi balik yuk http://www.bonekalilin.com/

    BalasHapus