Sabtu, 19 Mei 2018

Nikmat yang (sering) saya abaikan: dikelilingi oleh orang-orang baik.

Awal daftar ulang kuliah, saya dicarikan kos sama Mba Eka (kakak kelas saya waktu SMP-SMA, Moga Allah selalu kasih limpahan keberkahan buatnya). Namanya juga maru, nyari kosan yang penting fasilitas oke dengan harga yang nggak bikin kere. Berbagai tawaran dari kos yang wifi nggak pernah macet sampai kamar mandi yang rada mampet, datang dari teman-temannya Mba Eka. Nggak tau gimana, sampai akhirnya Allah mempertemukan saya sama Mba Nia, dan diboyong ke kosbin Fisip. Iya, kosbin. Lewat kosbin ini karakter saya di kampus terbentuk. Bagaimana dulu saya yang sering menunda-nunda shalat, terus harus sudah merapat sebelum iqomat dari masjid terdekat. Dari dzikir yang dulu seadanya waktu, sampai dzikir yang dirutinkan selalu. Kajian yang dulunya paling kalau ada acara tahunan, sekarang jadi kegiatan rutinan. Dengan izin Allah, semuanya itu atas ikhtiar mba-mba di kosbin. Masih inget, gw digedor sama Mba Hira gara-gara ketiduran belum Isya’ atau nggak bisa Subuh jamaah. Atau iri banget ketika Mba Yasmin yang kelihatannya slengekan, gaul, stylish, tapi hafalannya keren abis. Atau kesabaran Mba Menik dalam tindak tanduk dan perilakuknya. Serius, tahun pertama itu yang bentuk pribadi saya. Saya masih ingat, pesan dari seorang trainer ketika saya masih maru. Beliau bilang, kalau mahasiswa baru itu kesasarnya ya paling di dua jalan B.  Nyasar jadi baik atau jadi bejad. Mungkin ini yang dinamakan nyasar jadi baik.

Saya bukan orang baik, pun ada kebaikan, saya baru bisa menjadikan kebaikan itu hanya untuk diri saya. Tapi... banyak orang baik di sekitar saya. Dan saya meyakini bahwa kebaikan merupakan sesuatu yang menular.