Awal daftar ulang kuliah, saya dicarikan
kos sama Mba Eka (kakak kelas saya waktu SMP-SMA, Moga Allah selalu kasih
limpahan keberkahan buatnya). Namanya juga maru, nyari kosan yang penting
fasilitas oke dengan harga yang nggak bikin kere. Berbagai tawaran dari kos
yang wifi nggak pernah macet sampai kamar mandi yang rada mampet, datang dari
teman-temannya Mba Eka. Nggak tau gimana, sampai akhirnya Allah mempertemukan saya
sama Mba Nia, dan diboyong ke kosbin Fisip. Iya, kosbin. Lewat kosbin ini
karakter saya di kampus terbentuk. Bagaimana dulu saya yang sering
menunda-nunda shalat, terus harus sudah merapat sebelum iqomat dari masjid
terdekat. Dari dzikir yang dulu seadanya waktu, sampai dzikir yang dirutinkan
selalu. Kajian yang dulunya paling kalau ada acara tahunan, sekarang jadi kegiatan
rutinan. Dengan izin Allah, semuanya itu atas ikhtiar mba-mba di kosbin. Masih
inget, gw digedor sama Mba Hira gara-gara ketiduran belum Isya’ atau nggak bisa
Subuh jamaah. Atau iri banget ketika Mba Yasmin yang kelihatannya slengekan,
gaul, stylish, tapi hafalannya keren abis. Atau kesabaran Mba Menik dalam
tindak tanduk dan perilakuknya. Serius, tahun pertama itu yang bentuk pribadi
saya. Saya masih ingat, pesan dari seorang trainer ketika saya masih maru. Beliau
bilang, kalau mahasiswa baru itu kesasarnya ya paling di dua jalan B. Nyasar jadi baik atau jadi bejad. Mungkin ini
yang dinamakan nyasar jadi baik.
Saya bukan orang baik, pun ada
kebaikan, saya baru bisa menjadikan kebaikan itu hanya untuk diri saya. Tapi...
banyak orang baik di sekitar saya. Dan saya meyakini bahwa kebaikan merupakan
sesuatu yang menular.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar