Beberapa hari sebelum Stadium General, HMJ P. MIPA mengadakan
bakti sosial ke sebuah SD di daerah Mojosongo, Surakarta. Tidak tau kenapa, aku
dan sahabatku dengan suka rela mewakili prodi kami untuk ikut serta di dalam
acara tersebut. Padahal teman-teman kami yang lain sedang sibuk merancang senam
angkatan.
Acaranya hanya sebatas perlombaan
antar kelas dan membagikan beberapa sarana prasarana ke SD tersebut. Ketika
perlombaan berlangsung, aku mendapat kepercayaan untuk mengampu kelas satu.
Berbeda dari kelas 2-6 yang sudah memakai seragam olahraga SD, kelas 1
masih memakai seragam olahraga TK mereka dahulu. Ah, tapi perbedaan seragam olah
raga tidak membuat kekompakan mereka berkurang. Buktinya mereka dengan sigap
melaksanakan perlombaan. Pada ahirnya, kelas satu berhasil mendapatkan hasil
yang terbaik yang bisa mereka lakukan!
Ternyata kedekatanku dengan
anak-anak tadi tidak hanya di arena perlombaan saja. Ketika lomba usai,
beberapa dari mereka langsung mengerubungiku dan mengajakku bermain. Ada yang
tiba-tiba meloncat naik ke punggung, ada yang merengek minta dituntun, ada juga yang ingin minta perhatian dengan berkata “Kakak,
si fulan tadi nakal sama aku”. Ah,
lucu sekali mereka ini. Sampai pada akhirnya, gerbang sekolah dibuka dan mereka
berlarian keluar sekolah untuk membeli jajanan yang berada di luar sekolah.
Aku menghela napas lega, ini
training terbaik jika ingin punya anak banyak!
Tiba-tiba seorang anak perempuan
menarik bajuku, “Kak! Kakak!” ucapnya.
Aku tersenyum, anak berambut sebahu
ini juga kelas satu. Aku bisa menyimpulkan kalau anak ini sedikit pendiam, karena
ketika teman-temannya yang lain sibuk mencari perhatianku, ia lebih memilih
duduk dan melihat dari depan ruang guru. Aku berjongkok menghadapnya, “Iya dek,
kenapa? Ada yang nakalin kamu?”
Anak itu menggeleng, namun tangan
kecilnya mulai membelai wajahku, “Kakak kok cantik?” ucapnya polos yang membuatku
malah malu.
Tangan kecilnya beralih pada
kerudungku dan mengelus-ngelusnya dengan asyik, “Ini apa Kak?”
Aku tersenyum, “Ini namanya
kerudung, nanti kalau adek udah gede, adek juga pasti pakai kok.”
“Wah, iya kah? Berarti aku bisa
cantik kayak kakak?”
Aku mengangguk, “Bahkan lebih
cantik!”
Anak itu tersenyum dan memelukku
sejenak sebelum akhirnya berlari menuju gerbang sekolah.
Kedua mataku menyipit, meskipun aku
sedang tidak memakai kacamata, namun aku masih bisa melihat tulisan yang berada
di belakang baju olahraga milik adek tadi. “TK blablabla” yang merujuk pada sebuah agama tertentu. Dan, aku bisa
menyimpulkan kenapa anak tadi bertanya mengena kerudung yang kupakai.
Kalimatku beberapa waktu yang lalu
tiba-tiba terngiang, “Ini namanya
kerudung, nanti kalau adek udah gede, adek juga pasti pakai kok.”.
Berbagai perasaan seketika bercampura aduk. Aku menghela napas panjang.
Akankah
kamu mengingat percakapan yang kamu lakukan bersamaku ketika dewasa nanti? Akankah
kamu mengerti tentang makna dalam dibalik percakapan kita? Apakah Allah
memiliki rencana lain untukmu dan aku, Dek? Adek kecil yang cantik, semoga Allah
menunjukan jalan-Nya kepadamu. Aamiin.