Rabu, 07 Mei 2014

Tipe Manusia



Saya mendapat materi ini dari seorang motivator-ustadz-kakak tingkat di universitas saya. Sebut saja Mas Ardhi. Tidak hanya satu dua kali saya mengikuti acara yang pembicaranya adalah beliau. Dan tidak satu dua kali juga saya mendengar materi ini. Tapi entah mengapa, saya tidak pernah jenuh untuk mendengarkannya. Mungkin karena materi ini selalu menjadi pengingat, agar saya dapat bersosialisasi dengan baik. Berikut tipe-tipe manusia yang didefinisikan oleh ustadz saya:

Yang pertama, tipe yang paling rendah dan sebutan untuk seburuk-buruk manusia, yaitu manusia haram. Manusia haram di sini bukan diartikan seperti sebutan untuk manusia dari hubungan gelap loh yah. Manusia haram yang dimaksudkan di sini itu adalah manusia yang kehadirannya tidak diharapkan dan kepergiannya disyukuri. Biasanya, orang ini memiliki watak yang tidak disukai- bahkan dibenci- oleh orang-orang sekitarnya, sehingga wajar jika orang tipe ini tidak diharapkan. Bahkan, orang-orang akan lebih memilih untuk pergi menjauhi orang tipe ini jika orang tersebut datang.

Tingkat yang lebih tinggi dari manusia haram adalah manusia mubah. Manusia ini, ada atau tidak ada keberadaannya sama saja, tidak ada pengaruh apapun terhadap orang-orang disekitarnya. Bahkan orang-orang tidak bisa membedakan ketika dia ada dalam kelompok tersebut atau tidak.

Kemudian, ada manusia makruh. Kehadiran tipe ini tidak begitu membawa manfaat dan pengaruh, namun juga tidak mengganggu. Sedikit mirip dengan tipe mubah yah? Bedanya, orang-orang dapat menyadari kehadiran tipe makruh.

Satu tingkat lebih tinggi dari manusia makruh, ada manusia sunnah. Dimana, manusia sunnah ini kehadirannya disukai karena membawa manfaat, namun kepergiannya juga tidak berpengaruh terhadap orang-orang.

Dan tingkatan tertinggi dari tipe-tipe tersebut adalah, manusia wajib. Manusia yang kehadirannya diharapkan, dan apabila orang ini tidak ada, maka orang-orang akan kehilangan. Sungguh, adakah orang yang tidak ingin berada pada tipe ini?


Marilah bermuhasabah, berintrospeksi diri. Sudah terlihatkah kebermanfaatan kita di tengah masyarakat? Bukankah sebuah hadist menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat? Sudah seberapa keras usaha kita untuk menjadi manusia terbaik? Lihatlah pohon pisang, yang tidak akan mati jika belum menghasilkan kebermanfaatan (menghasilkan buah). Begitu pula kita, jangan sampai ketika ruh sudah terlepas dari tubuh namun kita belum melakukan suatu kebermanfaatan apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar