Senin, 23 April 2018

Second Batch of Seatecher By SEAMEO (Universitas Sebelas Maret - Valaya Alongkorn Rajabhat University)

Saya Zahrotunnisa, dari Prodi Pendidikan Fisika 2013. Saya merupakan satu dari 6 mahasiswa FKIP UNS yang beruntung karena berkesempatan menjejakan kaki di negara lain dalam program PPL Internasional yang diadakan oleh SEAMEO. Saya ditempatkan di Valaya Alongkorn Rajabhat University, bersama 16 mahasiswa Indonesia lainnya dan 2 mahasiswa Filipina. Jika dibandingkan teman-teman lain dari UNS, mungkin saya tergolong yang paling “ngenes”. Tapi dari ke-“ngenes”an itu lah saya belajar banyak hal.
Awal kedatangan, saya dijemput oleh para buddy, kemudian langsung diantar ke dorm. Sesampainya di dorm, ada rasa capek, lapar, dan yang paling dominan, haus! Dan di dorm tidak ada fasilitas air minum. Akhirnya dengan tenaga yang masih tersisa, saya berjalan sejauh 800 m untuk memberi air galon ukuran 6 liter, yang kemudian diangkut sejauh 800 m (lagi). Makanan pertama saya adalah mie instan (yang saya bawa dari Indonesia) yang dimaksak dengan heater seadanya. Hari-hari berikutnya, saya mencari sumber pangan di Pasar Khong Lua, bisa beli ikan goreng, nasi, dan buah-buahan. Kalau sedang benar-benar capek, saya “terpaksa” mengeluarkan uang lebih untuk membeli makanan halal siap saji di 7eleven.
Penjemputan Oleh Para Buddy

Pasar Khong Lua

Beberapa hari setelah kedatangan, akhirnya pembagian sekolah diputuskan. Saya mengajar di Chiengraknoi School, dengan Kru Song sebagai guru pamong saya. Kabar baiknya, Chiengraknoi merupakan sekolah dengan populasi siswa Muslim yang mencapai 30%, sehingga tersedia dua kantin yang menyediakan makanan halal. Biasanya saya akan brunch di sana, dan membeli seporsi khao man gai untuk dibawa ke dorm sebagai makan malam. Kabar buruknya, ternyata saya diharuskan mengajar bahasa Inggris di kelas 4 dan 6. Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang materi pada pelajaran Bahasa Inggris dan psikologi anak sekolah dasar. Tapi bagaimana lagi, ini tantangan yang mau tidak mau harus saya selesaikan. Alhasil, beberapa malam setelahnya, saya aktif menacari referinsi baik materi maupun rencana pembelajaran. Karena  buku teks dan rencana pembelajaran yang ada di sekolah, semua menggunakan Bahasa Thailand, dan saya sama sekali tidak ada gambaran tentangnya.
Gerbang depan Chiang Rak Noi School

Kantin Halal di CRN School yang Selalu Ramai di Pagi dan Waktu Istirahat

Pada tahap awal, yang saya lakukan adalah observasi kelas. Dalam bidang teknologi, di kelas saya sudah menggunakan smartboard, komputer yang terkoneksi dengan internet, dan set mikrophone – speaker. Namun, untuk proses pembelajaran, tahapnya hampir sama degan pembelajaran di Indonesia. Ketika guru belum datang, siswa akan berbaris dengan rapi di depan kelas sembari menunggu. Kelas dimulai dengan berdoa, kemudian guru memberikan motivasi dan nasehat dengan posisi siswa diam menunduk, baru kemudian pembelajaran seperti biasa. Dalam proses mengajar, saya benar-benar kaget ketika mendapati guru memukul siswa. Selama proses observasi, beberapa kali saya menyaksikan siswa dipukul, tapi mereka hanya diam menunduk. Kalau di Indonesia, pasti sudah heboh yah. Oh iya, guru itu wajib datang sebelum siswa, kemudian para guru akan berjejer di gerbang untuk menyambut siswa yang datang. Setiap hari, di sekolah selalu mengadakan upacara bendera loh, dan tidak ada siswa yang pura-pura sakit lalu mundur ke belakang.
Kondisi Kelas Ketika Tahap Observasi

Upacara Bendera Setiap Pagi

Siswa yang Baru Datang Diperintahkan untuk Mencabuti Rumput


Setelah observasi, saya menjadi asisten guru dalam mengajar selama beberapa hari, dan kemudian baru mengajar secara mandiri. Meskipun, pada prakteknya, saya selalu dibantu oleh Kru Song untuk menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Thailand, begitu pula sebalikanya. Sampai akhrinya, evaluator dari universitas datang untuk menilai. Semua terkondisikan dari awal, apa yang harus saya ajarkan, dan media apa saja yang akan saya gunakan. Setelah mengajar, saya mendapat masukan dalam pembelajaran yang saya lakukan. Tapi, evaluator malah banyak bertanya mengenai nama saya yang hanya satu kata, kenapa tidak ada nama marga, kenapa suka mengajar, dan perbincangan ringan lainnya.
Selama saya berada di Chiengraknoi, saya pernah diajak berdarma wisata ke daerah Ayuthayya. Melihat beberapa pasar apung, drama panggung dan pusat oleh-oleh di sana. Pada acara perpisahan, kebetulan bertepatan dengan hari Sang Ratu, sehingga diadakan acara yang meriah. Banyak tarian dan drama pentas yang diperlihatkan. Saya juga berkesempatan untuk mengenalkan budaya Indonesia dengan mengenakan pakaian Kebaya dan menyanyikan beberapa lagu daerah. Sampai di penghujung acara, yaitu perpisahan dengan siswa.
Darma Wisata CRN School

Farewell Party

Di luar hal pembelajaran, ada hal yang sangat membekas di hati saya: Mahasiswa PPL Valaya. Mereka banyak sekali membantu saya. Game, setiap pagi menunggui saya untuk menyetop van sam sam paet (jurusan 338). Oi, menjadi teman dekat saya meski dia tidak begitu mengerti Bahasa Inggris. Dan... teman-teman Muslim yang ada di sana, Daela dan Hawa. Mereka kebanyakan berasal dari Pathani, Thailand Selatan. Mereka ini lah yang sudah saya anggap saudara sendri. Ketika saya sakit, mereka memboyong saya ke dorm mereka. Ketika saya mengeluh tentang susahnya mencari makanan halal, mereka mengajak ke cafe halal yang ternyata dekat dengan univeritas. Ketika saya hendak pulang ke Indonesia, mereka mengajak saya jalan-jalan ke Ramkhamhaeng, dan mengenalkan saya dengan komunitas mahasiswa Muslim di sana.
Dorm Mahasiswi Muslim Valaya Alongkorn Rajabhat University

Ketika akhir pekan (tetunya jika tidak ada agenda dari universitas) saya biasanya “mbolang”. Saya pernah jalan ke Asian Institute Technology (AIT) hanya bermodal Google Map dan pertemanan dengan seorang ibu yang saya add di facebook. Di AIT ini saya merasa pulang ke rumah. Mahasiswa Indonesia di sana ramah-ramah, bahkan mau “menampung” saya selama dua hari. Mereka mengajak saya jalan-jalan ke Bangkok bersama ibu-ibu lain, dan mengajari saya naik Bangkok Train Station (BTS). Sungguh, BTS itu keren, cepat, murah, dan jarak kedatangan kereta hanya 5 – 10 menit. Tidak perlu menunggu lama. Di dalam kereta pun nyaman. Tapi saya tetap diperingatkan untuk selalu waspada dan menaruh tas di depan. Overall, saya happy berkeliling Bangkok dengan ibu-ibu yang “terlanjur” dibawa suaminya kuliah di negeri orang.
Situasi di Dalam Bangkok Train Station

Setelah proses teaching practice selesai, dari pihak Valaya (akhirnya) menjamu kami makan dengan hidangan Thailand. Pada sesi ini pula saya mengeluarkan unek-unek mengenai ketidakcocokan program studi dengan matapelajaran yang diajarkan. Dan ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya, bahkan beberapa mahasiswa mengutarakan bahwa mereka mengajar mata pelajaran “Keaseanan” yang tidak ada kaitannya dengan bidang yang mereka pelajari. Tapi bagaimanapun juga, pada akhirnya kami berhasil melalui tahapan tersebut, dan pihak universitas berjanji akan memperbaiki masalah tersebut untuk kedepannya.
Jangan takut untuk melangkah dan keluar dari zona kenyamanan yang wah. Memang banyak hambatan dan rintangan, tapi Allah tidak akan membebani si hamba diluar batas kemampuan. Dan setelah selesai semua ujian, barulah sadar bahwa kita sudah naik tingkatan.
Surakarta, 26 Maret 2018

Zahrotunnisa