Rabu, 29 Oktober 2014

Allah, maaf, kami sedang sibuk...


Kami sibuk menyelesaikan praktikum, sehingga tak bersegera menanggapi panggilan-Mu.
Kami sibuk mengerjakan laporan dan tugas, sehingga tak sempat mencari tempat yang layak untuk mengobrol dengan-Mu.
Kami sibuk memahami rentetan persamaan, sehingga tak sempat lagi untuk sekedar membaca surat cinta-Mu.
Kami sibuk mengejar deadline ini itu, sehingga tak sempat mempersiapkan deadline kematian yang selalu menunggu.

Allah, maaf, kami sedang sibuk...

Sabtu, 25 Oktober 2014

Catatan Hati Seorang Anak Kos 3

Anak kos, nggak bakal jauh-jauh dari urusan cucian. Solusi terbaik untuk menghindari cucian ya laundy. Apalagi sekarang banyak banget tuh promo-promo laundy, macam potongan harga untuk pelanggan baru, dapat tas laundy kalau udah ngelaundry sekian kilo, atau potongan harga dan laundry gratis kalau udah laundry beberapa kali. Pokoknya ada aja promo-promo menggiurkan yang dijanjikan tiap laundryan.

Suatu Minggu, ketika lagi mention-mention sama Abang, tiba-tiba dia bilang, "Udah dulu ya, gue mau off, mau nyuci dulu."

Serius, twit itu tuh berasa kamehameha yang menyerang saya secara langsung! Gimana enggak? 
Pertama : Dia itu cowok (iya lah :v)
Kedua : Dia anak rumahan (kalau dia nak kos, saya masih bisa tenang)
Ketiga : Dia Abang....(Jangan macam-macam ya, maksud saya itu, aktivitasnya sama aktivitas saya dari kuliah-praktikum-ngelesin itu nggak jauh-jauh beda. Tapi kenapa dia bisa meluangkan waktu buat... nyuci :/)

Sebenarnya, saya juga nyuci kok di kos, hanya saja diimbangi sama laundry. Perbandingannya satu : satu deh. Apalagi waktu kerudung Rabbani saya ada yang ilang di suatu laundryan, minggu berikutnya saya full nyuci. Ya biarpun dalam waktu setengah bulan, kerudungnya bisa balik, tapi tetep bete. Ya, anggap saja itu hidayah.

Hanya saja, saya itu rada males kalau nyuci di kos, soalnyaaa...
  1. Tangan saya rada sensitif gimana gitu kalau ketemu sama detergen, biasanya efeknya bisa sampai dua-tiga hari.
  2. Tali jemuran di kos saya itu tinggi banget kalau untuk saya. Jadi, kalau mau ngejemur  pakaian, saya kudu pakai kursi, atau lompat, atau cari titik terendah dari tali itu kemudian saya selempangin cucian dan tarik cucian dari bawah  supaya cucian berpindah ke titik yang lebih tinggi.
  3. Ember di kos saya kadang kurang banyak buat nyuci, kan nyucinya seminggu sekali. Jadi harus beberapa kali nyuci gitu, nggak bisa sekalian. Terus saya juga sukanya nggak campur-campur. Baju seragam sama baju seragam, kaos kaki sama kaos kaki, baju kuliah pisah sama baju di kos. Pokoknya pisahin, biar najisnya nggak tumpeh-tumpeh. Tapi karena idealis ini, saya jadi butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar mencuci.
  4. Nyetrika itu melelahkan... Lebih lelah daripada harus garap laporan praktikum. Ya kalau besok udah berkeluarga si nggak papa. Planingnya si saya mau nyettrika tengah malem kalau suami lagi nonton bola, pemanfaatan waktu gituuuhh..

Oke, saya nggak mau alasan lagi. Saya mau jadi ibu yang baik. Malu lah kalau misal suami aja bisa nyuci-masak, masa saya nggak bisa. Semoga saya selalu ingat postingan ini agar selalu semangat mencuci.

Oh iya, untuk teman-teman kelas saya, nanti kalau saya nikah, jangan ngado per individu, urunan aja Rp 50.000,00 buat beli mesin cuci terus kadoin ke saya :3

Senin, 06 Oktober 2014

Bukan Apes

Senin, 6 Oktober 2014

Bangun pagi seperti biasanya, bahkan tadi pagi saya sempat piket loh sebelum berangkat kuliah. Tapi ternyata Herti jauh lebih pagi ke kos saya. Jadi keburu-buru gimana gitu. Terus sampai gerbang belakang baru nyadar, "Her, aku nggak pake helm..."
"Yowes, piye meneh? (Yasudah, gimana lagi?)"
Ternyata itu hanya sebagian kecil dari apa yang saya lupakan. Di kelas, saya baru sadar kalau saya nggak bawa KRS sekelas, nggak bawa perkap kelas, nggak bawa apa lagi? Please udah, cukup segitu aja lupanya...
Ternyata...
Jam satu siang, murid saya sms, "Kakak, jangan lupa ya nanti sore..."  Saya mikir lama, lamaa banget, emangnya ada apa nanti sore? Dan wussshh.. jleb... neuron satu terhubung dengan neuron lainnya! Murid saya yang itu besok masih UTS, jadwalnya matematika, dan dia minta jadwal les di pindah dulu sehari. Saya diem, merenung... kenapa saya nggak nulis rencana itu di agenda? Kenapa saya lupaaa... kenapa... kenapaaa... uwooo... uwooo....
Oke, saya akhirnya mencoba untuk berakselerasi. Niatnya saya mau ngebut buat garap tugas Teknik Pembelajaran. Gampang si, cuma buat rangkaian lampu sederhana... hmmm... iya gampang.
FYI aja yah, kelompok saya itu kelompk gado-gado, kelompok campur-campur, kelompok sisa. Soalnya kemarin bentuk kelompoknya urut absen. Coba absennya itu menurut huruf hijaiyah, masa iya saya di aben akhir. Intinya, kelompok saya itu ada yang dari kelas sebelah, kakak tingkat, sama anak yang waktu pembagian kelompok nggak masuk. Dan kalian tahu, betapa susahnya menyatukan orang dengan kesibukan yang berbeda... Saya tunggu dari jam dua hingga mau setengah empat, hanya Latifah seorang yang datang.... Akhirnya saya pergi ngelesi sebentar, saya pikir, nanti kelompok saya juga datang kok. Toh udah ditelepon, di-sms, semoga..
Ketika saya datang ke lobi, sekitar mau Maghrib, eh... cuma seorang saja disana. Sedang menunggu... iya, menunggu.... Latifah....
Disaat kelompok lain sudah menyelesaikan tugasnya, kelompok saya ngumpulin alat dan bahan juga belum, sakitnya tuh di mana-manaaa....
Dengan sisa kekuatan dari gado-gado yang saya makan di kantin gedung A, saya cari alat bahan di sekitar kampus. Alhamdulillah, dapat, biarpun seadanya... Yang penting dapat, titik.
Saya sama Latifah mulai merangkai, dan Mas Pur akhirnya datang dengan celana jeans robek. Kan orang yang liat jadi risi, "Mas, itu celanamu digigit tikus apa gimana?"
"Engga dek, aku jatuh terus robek."
"Lakban aja!"
"Hmm... oke"
Dengan kehadirannya, dua lampu berhasil didirikan dengan sempurna. Lampunya doang loh ya...
Makin malam, lobi malah makin penuh. Kelas tetangga juga banyak yang di lobi. Dan anak-anak kimia juga tiba-tiba kayak mau piknik, sampai gelar-gelar alas duduk sekalian.
Nah, ketika Ihsan datang (dia ini kelas tetangga yang ikut kuliah tekpem di kelas saya), tiba-tiba lobi menjadi riuh, semua orang seolah sedang berlomba meneriakan namanya "Ihsaaan! Ihsaaan!". Termasuk saya! Ternyata... dia juga sedang ada tugas bersama kelompok-kelompok lain... Bingung nggak tuh? Hmmm... alhamdulillah si dia ikut ngerjain tekpem dulu.
Setelah kelompok dipersatukan, hanya dengan waktu dua jam, tugas berhasil diselesaikan! Diselesaikan doang loh yah... Ah, pokoknya selesai. Padahal kelompok lain digarap dari habis Dzuhur sampai Maghrib.
Cobaan belum selesai, ketika mau pulang, motor saya ternyata dihimpit oleh motor-motor anak kimia. Nggak ada pilihan, angkat-geret-pindah satu-satu motor yang menghalangi. Aku strooooongg... Sekian.

Jumat, 26 September 2014

Catatan Hati Seorang Anak Kos 2

Pernah berhadap-hadapan langsung sama maling, rampok, atau sejenisnya?
Saya si nggak pernah, dan jangan sampai deh ketemu sama yang begituan.
Tapi, kalau "ngerasain" ada maling si pernah. Sekitar satu tahun yang lalu, jam 11 malam, di atap kos tiba-tiba kayak ada yang lagi jalan-jalan. Bolak-balik, nggak jelas langkahnya. Mau keliling kali yah. Sedihnya, satu kosan nggak ada yang ngerasa. Saya sms-telepon penghuni yang lain, tapi cuma seorang saja yang balas. Itu pun hanya dibalas dengan, "Iya, aku denger suaranya kok, kunci pintu kamar aja yah!" udah -___-
Hm... tapi bukan maling yang itu yang mau saya ceritain. Tapi yang ini nih...

Jum'at, 26 September 2014

01:30
Di tengah malam yang sunyi....
Mba Yasmin mendengar sebuah suara dari garasi. Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup terdengar kuat. Apalagi, garasi kos kami tepat berada di samping kamar Mba Yasmin.

02:30
Suara itu makin keras dan tidak beraturan. Garasi seperti lagi diacak-acak. Dengan suara lantang, Mba Yasmin berteriak dari kamarnya:
"Nisaaaa... Rorooo...  Umaaaay... Banguuuun!!! Ada yang lagi masuk ke kos... Ada orang buka pintu.... Banguuunn!!!"
Lalu suara sahut-sahutan mulai terdengar. Sayangnya, saya lagi tidur pulas, nggak denger apa-apa, sampai salah satu dari teman saya teriak, "Nisaaa!! Banguun!!! Reddy Scarlet (Nama motor saya) dalam bahaya!!!"
Nggak tau kenapa, saya langsung terjaga dan benar-benar "sadar" ada yang lagi terjadi. Dan yang ada dalam pikiran saya hanya: Selamatkan Reddy! Sontak saja saya langsung teriak, "OKE, YANG UDAH BANGUN, BUKA PINTU, HITUNGAN KE TIGA! SATU! DUA! TIGA! BUKA PINTUUUU!!!"

Dan ternyata.....
Bukan maling, hanya seekor kucing....

Pesan moral:
1. Pastikan kucing-kucing di sekitar anda sudah kenyang ketika malam.
2. Kunci pintu dan kunci motor anda sebelum tidur.
3. Tidak selamanya diam itu emas.

Rabu, 27 Agustus 2014

Syair Muhammad Al-Fatih

Niatku, taat kepada perintah Allah, ["Dan hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya (QS. Al-Maaidah [5] : 35)]
Semangatku, berupaya dalam kesungguhan dalam melayani agamaku, agama Allah.
Tekadku, aku akan tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentara Allah.
Pikiranku, terpusat pada pembebasan, atas kemenangan dan kejayaan, dengan kelembutan Allah.
Jihadku, dengan jiwa dan harta dan apa yang tersisa di dunia setelah ketaatan pada perintah Allah.
Kerinduanku, perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah.
Harapanku, pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian negara ini atas musuh-musuh Allah.

Syair Muhammad Al-Fatih Remaja ketika menggambarkan tentang dirinya

Catatan Hati Seorang Anak Kos 1


Apa yangharus dilakukan ketika ada binatang buas masuk ke dalam kos?
a. Teriak
b. Berlari keluar kos
c. Mencari pertolongan sesegera mungkin
d. Apatis
e. Mencoba menjinakannya
Kira-kira, apa jawabanmu jika mendapat pertanyaan seperti itu?
Masih bingung menjawabnya? Berikut terdapat kasus yang bisa Anda analisis untuk menemukan jawabannya.

Selasa, 26 Agustus 2014
23:30 - 23:40 (sekitar pukul itu)
Seorang teman kos tiba-tiba menggedor-gedor kamar saya. Biasanya saya juga masih terjaga, tapi malam itu entah kenapa saya tidur lebih awal. "Nisa! Bangun Nis! Keluaaar! Ada ular masuk!"
Setidaknya kalimat itu yang saya dengar secara berulang-ulang.  Alhamdulillah, saya bisa menguasai diri saya dengan cepat. Ternyata, beberapa menit yang lalu, dua orang dari kami melihat ular hitam-panjang yang tiba-tiba merayap dengan cepat ke dalam kos. Mereka berdua lari dan teriak-teriak, membangunkan seisi kos, kecuali saya...
23:45
Anak-anak kos sudah berada di luar kos. Saya mau ke luar, tapi dingin, dan kebelet pipis pula. Mau ke kamar mandi? Takut. Jangan-jangan ularnya sembunyi di situ lagi. Yasudah, daripada menambah rasa kebelet, saya ngungsi di kamar Mba Yasmin yang juga nggak ikut ke luar.
Pertolongan pertama datang. Ada mas-mas yang masih pacaran di halaman kos. Seorang dari kami meminta tolong kepada Mas itu. Masa bodo dengan pacarnya yang langsung pasang muka nggak ngenakin. Mas-masnya cukup berani. Buktinya, dia langsung masuk kos tanpa bawa apapun! Dia masuk gudang, angkat kardus, liatin kolong, tapi si ular kayaknya pemalu. Jadi ularnya nggak ketemu. Mas-masnya akhirnya keluar kos, disuruh pulang kayaknya sama si pacar. Yasudah, pertolongan pertama hanya sebatas itu.

23:55
Hanya seleng bebarapa menit setelah Si Mas tadi pulang, salah satu dari kami menemukan si ular. Ular itu ternyata bersembunyi di balik lemari di salah satu kamar kos. Dengan cepat, kamar tersebut ditutup dengan rapat.

Rabu, 27 Agustus 2014
00:01
Saya ikutan ke halaman kos yang sudah ramai. Bahakan blok C-D-E-F banyak yang terbangun. Tapi mereka hanya sekedar menengok dari jendela kamar dan kembali tidur. Kami terus menghubungi Mas Agus (anak pemilik kos), namun sepertinya ia sangat lelap. Kami juga menghubungi tetangga sekitar yang ehm, LAKI!
Berikut salah satu percakapan yang saya dengar dari teman-teman saya yang mencoba menelepon temannya.
"Eh, kamu ke kos aku dong, ada ular nih!!!" teman saya diam, mendengarkan suara di sebrag sana, "Apa? Takut? Ih! Besok aku bawain kerudung buat kamu!"
Sampai seorang dari kami menyadari...
"Nisaaa!! Di depan Al-Banna ada kosbin FKIP kan? Telepon salah satu dari mereka dong! Bila perlu suruh rame-rame datang ke sini!" Saya diam, lamaaaa... mencoba untuk mengucapkan kalimat yang pas. "Ayo Nis! Keburu ularnya bisa keluar!" Saya menarik napas panjang, "Nisa nggak punya nomor mereka mba. Iya si, satu dari mereka kakak tingkat, satu seorganisasi, tapi Nisa kan males nyimpen-nyimpen nomor orang..."
Kini giliran orang-orang yang terdiam
Tidak lama kemudian, seorang dari kami berhasil menghubungi Mas Agus. Bak air di gurun yang panas... sangat menyejukan. Menit-menit berikutnya adalah penantian panjang....
00:07
Mas Agus datang dengan perlengkapan seadanya. Hanya berbekal senter topi dan sebuah tongkat, Mas Agus masuk ke dalam kamar dengan ular menanti di dalamnya.
Beberapa saat kemudian, seorang anak gendut dan kurus-tinggi juga datang ke kos kami. Mereka itu ternyata yang diancam akan dibawakan kerudung jika tidak membantu kami. Ketika ditanya kenapa mereka lama sekali, mereka hanya nyengir sembari menjawab. "Nyari ranting..."
Pergelutan luar biasa terjadi antara Mas Agus dengan si ular, ternyata dia membutuhkan pertolongan. Dua anak laki-laki tadi saling berpandangan, "Kamu aja yang masuk!" ucap seorang dari mereka. "Enggak, kamu aja!!!"
Setelah berapa lama, Mas Agus berhasil memecahkan kepala si ular. Alhamdulillah...
00:18
Kasus terselesaikan

Pesan Moral:
1. Tidak semua Super Hero punya jubah dan memakai topeng
2. Carilah suami yang tidak takut ular dan bisa melindungi keluarganya
3. Jangan males nyimpen nomer ponsel orang, apalagi tetangga sekitar. Sekian.




Kamis, 07 Agustus 2014

Terbukanya Tiga Portal


Terimakasih banyak untuk hari ini
Tiga portal terbuka dengan mudahnya ketika bersama kalian
Portal masa lalu,
dimana kita mengenang bagaimana masa kecil yang tak terlupa
Kala itu, banyak pertengkaran diantara kita yang pada akhirnya menjadi bahan tawa
Kala itu, banyak hal-hal kecil yang pada akhirnya menjadi cerita bermakna
Portal masa kini,
dimana kita menceritakan apa yang terjadi dengan diri kita saat ini
Sebagian dari kita masih berkutat dengan studi
Sebagian lagi sudah memiliki profesi
Semuanya sama, ingin menjadi pribadi yang mandiri
Portal masa yang akan datang,
dimana kita menceritakan rencana-rencana gila di hari nanti
Bagaimana tekad kita untuk tetap berdiri
Bagaimana ambisi kita untuk memperjuangkan mimpi
Bagaimana memperjuangkan apa yang sudah terpatri di hati
Ketika kami berpisah,
ketiga portal kembali tertutup dengan rapat.

Jumat, 04 Juli 2014

Nasehat

Nasehat, tidak ada salahnya bukan jika saya mendefinisikan nasehat sebagai kritik yang membangun? Saya ini tipikal orang yang susah mendapat kritikan, apalagi jika kritika tersebut tidak selaras dengan pemikiran ataupun idealisme saya. Namun, ada orang-orang tertentu yang berhasil menyetir pikiran saya melalui cara-cara yang sederhana, tidak menggurui.
Dari hasil diskusi yang panjang selama beberapa hari, saya bisa menarik kesimpulan:

"Ketika kita dinasehati oleh seseorang, jangan lihat siapa orang yang menasehati kita, tapi lihatlah isi nasehat itu. Jika nasehatnya bisa membuat kita lebih baik, ya rugilah kita jika tidak melaksanakan nasehat itu. Misalnya saja, ada orang yang meyuruh kita sholat, kan baik tuh, ya kita ambil. Meskipun (mungkin) si penasehat (malah) belum sholat."

Tapi, berbeda jika kita-lah yang menjadi sang penasehat. Introspeksi diri dulu, apakah kita sudah melaksanakan apa yang akan kita nasehatkan atau belum. Seseorang pernah berkata, "orang yang ngomong tapi tidak melaksanakan, hukumannya berat banget". Solusi terbaik ya tentu saja introspeksi, tumbuhin juga rasa seperti, "Weh, dulu aku ngingetin dia, tapi sekarang kok aku malah gini."

Semoga bermanfaat!

Sabtu, 21 Juni 2014

"Tell it that I'm really sorry..."

Several months ago, I visited a special school for disable children in Mojosongo, Surakarta. I met William, a student in that school. I thought he was 7 or 8 yo. He was sooo hyper active! And I got a cute-deep conversation with him. For your information, William liked my cell phone and played with it a lot. So I decided to hide it.

"Where's your no-ki-a?" William asked me.
"I dont know."
"WHERE.. IS... THE... NO-KI-A?" He said louder.
"I said that I-dont-know, Willy. It's hiding. Perhaps The Nokia gets angry because you opened youtube without my permission." 
He bowed his head, "If the no-ki-a comes back, tell it that Im really sorry..."



Rabu, 11 Juni 2014

(Hadist) Tanda-Tanda Hari Kiamat

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: "Suatu ketika, saat Nabi SAW sedang berbicara di hadapan sejumlah sahabat di sebuah majelis, tiba-tiba datang seorang badui, lalu bertanya, "Kapan hari kiamat tiba?" Namun Rasulullah SAW tetap saja meneruskan pembicaraannya, sehingga sebagian sahabat berkata: "Beliau telah mendengar apa yang ditanyakan orang itu, namun beliau tidak menyukainya." sebagian lagi berkata: "Beliau tidak mendengarnya." Ketika pembicaraan beliau telah tuntas, beliau lalu bertanya: "Siapa yang bertanya tentang Kiamat tadi?" Orang tadi menjawab: "Saya ya Rasulullah." Beliau lalu bersabda: "Jika amanat sudah disia-siakan, maka tunggulah tibanya hari Kiamat."Dia bertanya lagi: "Bagaimana maksudnya?" Beliau menjawab: "Jika suatu jabatan sudah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah tiba hari Kiamat.""
(HR. Bukhari)

Dari Anas ra, ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Tiada seorang Nabi pun, melainkan telah memperingatkan kaumnya akan bahaya si buta sebelah yang pendusta (Dajjal). Ketahuilah bahwa dia itu buta sebelah dan sesungguhnya Rabb kalian 'azza wa jalla tidak buta. Di kening si buta itu tertulis huruf kaf, fa', dan ro.""
(HR. Bukhari-Muslim)

Dari Mirdas Al-Aslami ra, ia berkata: "Nabi SAW bersabda: "Orang-orang shalih telah meninggal secara bertahap, sehingga tinggalah manusai yang buruk sebagaimana gandum dan kurma yang buruk (sudah diambil yang bagus-bagusnya) yang sama sekali tidak akan dipedulikan oleh Allah.""
(HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia tidak akan pergi (Kiamat tidak akan tiba) hingga seseorang melewati sebuah kubur, lalu berhenti di situ dan berkata: Aduhai... alangkah baiknya jik saja aku yang menjadi penghuni kubur ini. Dia mengatakan seperti itu lantaran sulit sekali untuk empertahankan agamanya dan sudah begitu merajalelanya fitnah.""
(HR. Bukhari-Muslim)

Senin, 02 Juni 2014

Pembawaan

"I'm just short, inside, I'm more mature than you!"
Fukko-Clannad


Kamis, 22 Mei 2014

"Ini namanya kerudung, Dek"




Beberapa hari sebelum Stadium General, HMJ P. MIPA mengadakan bakti sosial ke sebuah SD di daerah Mojosongo, Surakarta. Tidak tau kenapa, aku dan sahabatku dengan suka rela mewakili prodi kami untuk ikut serta di dalam acara tersebut. Padahal teman-teman kami yang lain sedang sibuk merancang senam angkatan.

            Acaranya hanya sebatas perlombaan antar kelas dan membagikan beberapa sarana prasarana ke SD tersebut. Ketika perlombaan berlangsung, aku mendapat kepercayaan untuk mengampu kelas satu. Berbeda dari kelas 2-6 yang sudah memakai seragam olahraga SD, kelas 1 masih memakai seragam olahraga TK mereka dahulu. Ah, tapi perbedaan seragam olah raga tidak membuat kekompakan mereka berkurang. Buktinya mereka dengan sigap melaksanakan perlombaan. Pada ahirnya, kelas satu berhasil mendapatkan hasil yang terbaik yang bisa mereka lakukan!
            Ternyata kedekatanku dengan anak-anak tadi tidak hanya di arena perlombaan saja. Ketika lomba usai, beberapa dari mereka langsung mengerubungiku dan mengajakku bermain. Ada yang tiba-tiba meloncat naik ke punggung, ada yang merengek minta dituntun, ada juga yang ingin minta perhatian dengan berkata “Kakak, si fulan tadi nakal sama aku”. Ah, lucu sekali mereka ini. Sampai pada akhirnya, gerbang sekolah dibuka dan mereka berlarian keluar sekolah untuk membeli jajanan yang berada di luar sekolah.
            Aku menghela napas lega, ini training terbaik jika ingin punya anak banyak!
            Tiba-tiba seorang anak perempuan menarik bajuku, “Kak! Kakak!” ucapnya.
            Aku tersenyum, anak berambut sebahu ini juga kelas satu. Aku bisa menyimpulkan kalau anak ini sedikit pendiam, karena ketika teman-temannya yang lain sibuk mencari perhatianku, ia lebih memilih duduk dan melihat dari depan ruang guru. Aku berjongkok menghadapnya, “Iya dek, kenapa? Ada yang nakalin kamu?”
            Anak itu menggeleng, namun tangan kecilnya mulai membelai wajahku, “Kakak kok cantik?” ucapnya polos yang membuatku malah malu.
            Tangan kecilnya beralih pada kerudungku dan mengelus-ngelusnya dengan asyik, “Ini apa Kak?”
            Aku tersenyum, “Ini namanya kerudung, nanti kalau adek udah gede, adek juga pasti pakai kok.”
            “Wah, iya kah? Berarti aku bisa cantik kayak kakak?”
            Aku mengangguk, “Bahkan lebih cantik!”
           Anak itu tersenyum dan memelukku sejenak sebelum akhirnya berlari menuju gerbang sekolah.
            Kedua mataku menyipit, meskipun aku sedang tidak memakai kacamata, namun aku masih bisa melihat tulisan yang berada di belakang baju olahraga milik adek tadi. “TK blablabla” yang merujuk pada sebuah agama tertentu. Dan, aku bisa menyimpulkan kenapa anak tadi bertanya mengena kerudung yang kupakai.
            Kalimatku beberapa waktu yang lalu tiba-tiba terngiang, “Ini namanya kerudung, nanti kalau adek udah gede, adek juga pasti pakai kok.”. Berbagai perasaan seketika bercampura aduk. Aku menghela napas panjang.
Akankah kamu mengingat percakapan yang kamu lakukan bersamaku ketika dewasa nanti? Akankah kamu mengerti tentang makna dalam dibalik percakapan kita? Apakah Allah memiliki rencana lain untukmu dan aku, Dek? Adek kecil yang cantik, semoga Allah menunjukan jalan-Nya kepadamu. Aamiin.

Sabtu, 17 Mei 2014

Rasa Malu yang Hanya Ada di Masa Lalu



Santai saudara-saudara, saya tidak akan menuliskan hal yang berat. Saya hanya akan menuliskan kejadian yang akhir-akhir ini terjadi di lingkugan kos saya. For your information, kos yang saya tempati punya enam blok (A, B, C, D, E dan F), blok A dan B satu bangunan dan blok lainnya berada di bangunan yang lain (formasi bangunan seperti huruf L). Dua blok (A dan B) dikontrak IMC Al-Banna, dan yang lain masih menjadi kos biasa. Di tengah bangunan kos, ada halaman luas yang bisa dipakai buat bakar-bakaran atau latihan motor buat Dayu, di sisi-sisinya banyak pohon yang lumayan rindang. Ada pohon pepaya yang kalau berbuah udah langsung dicupin punya siapa, pohon mangga, pohon pisang, dll. Jadi, nyante saja kalau uang bulanan belum dikirim, Insya Alloh masih bisa bertahan hidup.
            Awalnya, tidak ada masalah antar satu penghuni satu dengan penghuni yang lain. Namun lama kelamaan, muncul pemandangan yang tidak mengenakkan. Halaman kos malah dijadikan ajang memadu kasih antar pasangan yang belum halal. Puncaknya, Jum’at pagi kemarin, Mba Yasmin melihat adegan tidak senonoh, live dari balik jendela kamarnya. Dia langsung mengambil air wudhu dan memanggil Yana. Terus mereka berdua nyalain murotal keras-keras dari dalam kos, dan.... pasangan tersebut malah cekikikan dan melanjutkan aktifitas mereka tanpa rasa risih. Sampai suara murotal dari masjid Nurul Amal berbunyi karena sebentar lagi akan Jum’atan, baru mereka menghentikan aktifitas mereka.
 
            Kami pun melaporkan kejadian tersebut kepada pemilik kos, sebut saja namanya Mas Agus. “Kalau ada kejadian begitu lagi, langsung sms saya saja mbak,” begitu solusi yang diberikannya. Tapi ya apa akan efektif? Perlu diketahui, rumah pemilik kos jauh dari lokasi kami. Kan nggak seru kalau Mas Agus datang pas acaranya udah selesai. #abaikan
            Nah, hari Sabtu malam, saya sama Febri menjemput teman kami di terminal Tirtonadi. Sampai kos sekitar pukul 9 malam. Kalian tahu, ada sepasang muda-mudi di bawah pohon mangga yang ada di halaman kos. Mungkin itu pasangan lagi sial, karena yang liat bukan Mba Yasmin, Yana, Dayu atau Febri yang belum bisa ngeluarin tampang serem dan marah-marah. Langsung saja saya suruh teman-teman saya masuk ke kos, kasihan mata mereka kalau melihat yang begituan. Tapi nggak tau kenapa, bukannya ikut teman-teman kos, saya malah putar balik motor dan mengarahkan lampu motor ke mereka. Saya gas itu motor biar berisik, klakson nggak ketinggalan terus dipenceti. Wah, pengin saya tabrak sekalian itu pasangan, toh nggak ada 24 jam yang lalu saya baru namatin Shingeki no Kyojin, jadi ya aura membunuh masih melekat kental. Sayang, teman-teman kos saya keburu keluar dan menyuruh saya masukin motor.
            Dan... itu pasangan masih juga melanjutkan aktifitas mereka, tanpa... ah, sudahlah. Mungkin mereka hanya perlu didoakan. Untuk teman-teman Al-Banna, jangan takut kalau liat yang begituan lagi. Insya Alloh kita ada di pihak yang benar. Ayo, sebarkan kebaikan dan lawan kemungkaran. Mulailah dari diri sendiri, teman satu kos, tetangga kos dan lingkungan yang kita tempati!