Nasehat, tidak ada salahnya bukan jika saya mendefinisikan nasehat sebagai kritik yang membangun? Saya ini tipikal orang yang susah mendapat kritikan, apalagi jika kritika tersebut tidak selaras dengan pemikiran ataupun idealisme saya. Namun, ada orang-orang tertentu yang berhasil menyetir pikiran saya melalui cara-cara yang sederhana, tidak menggurui.
Dari hasil diskusi yang panjang selama beberapa hari, saya bisa menarik kesimpulan:
"Ketika kita dinasehati oleh seseorang, jangan lihat siapa orang yang menasehati kita, tapi lihatlah isi nasehat itu. Jika nasehatnya bisa membuat kita lebih baik, ya rugilah kita jika tidak melaksanakan nasehat itu. Misalnya saja, ada orang yang meyuruh kita sholat, kan baik tuh, ya kita ambil. Meskipun (mungkin) si penasehat (malah) belum sholat."
Tapi, berbeda jika kita-lah yang menjadi sang penasehat. Introspeksi diri dulu, apakah kita sudah melaksanakan apa yang akan kita nasehatkan atau belum. Seseorang pernah berkata, "orang yang ngomong tapi tidak melaksanakan, hukumannya berat banget". Solusi terbaik ya tentu saja introspeksi, tumbuhin juga rasa seperti, "Weh, dulu aku ngingetin dia, tapi sekarang kok aku malah gini."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar