Jumat, 30 Maret 2018

Sendirian dalam Kebaikan itu Berat


Seperti tahun lalu, tahun ini masjid Nurul Huda UNS juga mengadakan Camping Qur’an diujung – awal tahun.

Enggak kayak tahun lalu, tahun ini saya benar-benar galau mau ikut atau enggak. Nggak ada temen lah, males kalau mules tapi antrian kamar mandi banyak lah, belum starter hafalan lah, lagi nggak ada uang yang lebih lah, dan banyak bisikan “lah” - “lah” yang lainnya. Sampai di H – 2 atau H - 3, akhirnya Allah bayar kontan keraguan itu. Saya dapet 50ribu cuma-cuma dari seseorang –yang semoga Allah selalu menjaganya-.  Mau nggak ikut? Malu lah sama Allah.

Enggak kayak tahun lalu, tahun ini saya nggak ada temen yang bener-bener ngejaga supaya enggak kabur dari masjid. Dulu ada Hasna sama Aisyah (yang udah saya anggap anak sendiri), jadi kalau balik mandi ke kos, mau nggak mau harus ke masjid lagi. Tahun ini? Sehari bisa balik dua kali ke kos, bahkan malam terakhir saya tidur di kos dan dua kali bolos setor. Sungguh, bisikan untuk malas adalah senjata setan yang nyata.

Enggak kayak tahun lalu, yang dikelompokan sama yang seperantaran, tahun ini saya dikelompokkan sama anak-anak SMP. Happy si, soalnya mereka enggak sadar kalau saya 10 tahun lebih tua, bahkan sama musyrifahnya juga dikira masih SMP. Tapi... bocah SMP itu emang bikin hasad (banget). Belum apa-apa udah setor berapa baris. Terus aja gitu, sampai tinggal berapa menit penutupan pun mereka masih “nafsu” nyetorin. Pengingat banget nih dari Allah, saya nyasar ke kelompok SMP biar sadar. Umur udah kepala berapa, tapi hafalan enggak seberapa.

Adanya teman dalam kebaikan bukan merupakan syarat utama, tapi kesendirian dalam kebaikan itu berat, kalau ringan dalam kesendirian namanya maksiat. Moga Allah selalu jaga kita. Karena terbukanya liang lahat, tidak menunggu diri ini bertaubat.

Cilongok, 30 Maret 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar