Senin, 14 November 2016

Sekolah Pranikah #6, Bag. 4: Lajang Produktif


RESUME SPN PERTEMUAN KEEMPAT
Pembicara        : Ibu Musdalifah
Waktu             : Ahad, 6 November 2016
Tempat            : Ruang Seminar NHIC
Peresume : Rita Kurniasari
Allah menciptakan seorang manusia sekaligus juga sudah menyiapkan pasangannya seperti firman-Nya dalam surat An-Nisa’ ayat yang pertama. Sehingga sebagai seorang yang masih lajang tidaklah perlu risau akan jodohnya nanti. Hal yang perlu dilakukan ialah mempersiapkan diri sebaik mungkin sampai datang waktu dimana jodoh dipertemukan hingga menuju pernikahan.
Dua kisah pernikahan yang sangat menginspirasi dalam Islam yang keduanya adalah pernikahan monogami. Pertama, kisah antara Rasulullah SAW dengan ibunda Khadijah. Khadijah merupakan seorang janda dan saudagar kaya raya yang pasti banyak orang mengincar untuk menikahinya. Suatu ketika Khadijah meminta Rasulullah untuk menjualkan barang daganganya ke Syam dan Rasulullah pun menerimanya. Rasulullah berangkat ke negeri Syam ditemani oleh Maisaroh, orang yang disediakan oleh Khadijah untuk membantu berdagang. Rasulullah berdagang dengan sangat jujur, cerdas, tekun, dan keuntungan yang didapatkan sangat banyak. Hal ini membuat Maisaroh heran, ia belum pernah menemui penjual dengan keuntungan sangat banyak seperti itu. Maisaroh memberitahukan tentang Rasulullah tersebut kepada Khadijah dan membuatnya mengagumi Rasulullah SAW. Khadijah lalu menceritakan ketertarikannya terhadap Rasulullah kepada sahabatnya Nafisah. Nafisah lalu memberitahukanya kepada Rasulullah dan beliau memberitahu hal ini kepada pamannya. Kemudian paman Rasulullah mendatangi paman Khadijah dan merundingkan hal tersebut. Akhirnya didapatkan keputusan bahwa paman dari keduanya setuju untuk menikahkan Rasulullah dengan Khadijah.
Kisah kedua adalah pernikahan antara Ali bin Abi Thalib dengan Fatiman binti Muhammad. Sejak kecil Ali dan Fatimah sudah tinggal bersama di rumah Rasulullah SAW. Ali pun sudah menyukai Fatimah sedari kecil, namun ia tak pernah mengungkapkan perasaaanya itu pada siapa pun. Setelah menginjak usia dewasa, mulai berdatangan lelaki yang hendak menikahi Fatimah. Orang pertama yang datang untuk melamar adalah Abu Bakar akan tetapi Rasulullah hanya terdiam yang artinya lamaran tersebut ditolak. Setelah itu datanglah Umar yang ingin melamar Fatimah tetapi Rasul pun hanya diam. Beliau lalu memanggil Ali. Ali mengira bahwa Rasul memanggilnya dengan maksud untuk memintanya menyiapkan pernikahan antara Fatimah dan Umar. Setelah Ali menghadap Rasulullah, ia ditanya maukah menikahi Fatimah, putrinya. Akhirnya Ali pun menikahi Fatimah. Kedua kisah pernikahan tersebut tidak diawali dengan saling pendekatan apalagi pacaran. Seperti itulah Islam mengajarkan untuk tidak berpacaran dalam upaya mencari jodohnya.
Bagaimana dengan wanita-wanita di masa kini? Wanita masa kini bisa dibagi menjadi tiga tipe. Pertama, wanita pemimpi. Wanita tipe ini ketika mengagumi seseorang maka seringkali sampai terbawa mimpi. Ia bahkan percaya bahwa mimpi itu merupakan petunjuk dari Allah untuk memperlihatkan jodohnya yang sesungguhnya. Padahal apa yang dialami dalam mimpi belum tentu itu petunjuk yang sebenarnya dari Allah, bisa saja itu hanya buah mimpi. Maka jangan jadi pengikut mimpi dan menjadi wanita pemimpi. Kedua, wanita penebar pesona. Wanita tipe ini menarik perhatian tidak hanya dari penampilan tapi juga bisa dari kecerdasan, keramahan, dari cara bicara, dan lain sebagainya. Tapi terkadang wanita tidak sadar akan daya tariknya tersebut. Maka sebagai wanita harus berhati-hati menjaga sikap dan perilaku dimana pun berada. Ketiga, tipe wanita mudah jatuh cinta. Wanita ini sangat mudah bersimpatik pada lelaki hanya karena hal sepele. Tapi hal ini tidaklah baik jika diperturutkan terus menerus. Hal ini harus dikendalikan agar tidak menyimpang dari jalan yang benar.
Selama jodoh belum datang, maka ada beberapa kegiatan produktif yang bisa dilakukan, seperti :
1.      Fokus pada amanah
Mempersiapkan masa depan memang sangat penting akan tetapi jangan sampai hal itu menyita sebagian besar waktu. Tetap fokus pada amanah yang sekarang diemban agar bisa dijalankan dengan baik seiring dengan mempersiapkan masa depan.
2.      Fokus pada perbaikan diri
Selagi menunggu datangnya jodoh maka perlu instropeksi diri mencari kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Setelah mengetahui kelemahan dan kekurangan diri kemudian mencoba untuk membenahi diri menuju yang lebih baik.
3.      Fokus pada persiapan
Persiapan yang diperlukan antara lain secara ma’nawiyah, fikriyah, jasadiyah, dan maliyah. Kematangan ma’nawiyah tak selalu seiring dengan kematangan biologis atau bertambahnya usia seseorang. Ada orang yang secara usia terlihat sudah matang akan tetapi ketika sudah hidup berumahtangga tak cukup dewasa untuk mengahadapi hal baru yang dialaminya. Menyatukan dua karakter yang berbeda dalam sebuah ikatan pernikahan merupakan hal yang tidak mudah dan perlu dipersiapkan. Persiapan fikriyah tidak bisa instan perlu dipelajari salah satunya dengan sekolah pra nikah. Persiapan jasadiyah yaitu dengan menjaga kesehatan organ reproduksi, mengatur pola makan yang sehat, aktivitas yang sesuai dengan kapasitas tubuh dan rajin berolahraga. Perispan maliyah juga cukup penting bagi wanita karena tidak tahu nantinya akan mendapatkan suami yang seperti apa. Belum tentu kondisi suami nanti sudah bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga atau belum. Hal ini pun bisa menjadi ladang pahala bagi sang istri jika turut membantu menafkahi keluarga.
Tantangan mencari jodoh bisa datang dari mana saja baik karena faktor internal maupun eksternal. Faktor internal yang biasa dijumpai adalah idealisme diri yang terlalu tinggi. Memiliki standar itu penting tapi juga harus melihat kondisi diri sendiri. Faktor eksternal bisa datang dari pihak keluarga yang  memang memiliki patokan tertentu dalam memilih jodoh. Kesiapan pihak ikhwan juga terkadang bisa jadi penghalang untuk segera melangsungkan pernikahan. Budaya masyarakat tertentu juga bisa menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan jodoh.
Selama menantikan jodoh yang belum datang, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1.      Menjaga pandangan
Menjaga pandangan di jaman sekarang haruslah lebih berhati-hati dan memang tidak mudah. Jika jaman dulu ketika ada yang mengumbar pandangan bisa langsung terlihat jelas, sekarang hal ini bisa saja tidak ada orang lain yang menyadari. Peranana dunia maya sangat membantu dalam hal menebar pandangan ini karena kita bisa memandang siapa saja selama waktu yang diinginkan tanpa ada orang lain yang melihat.
2.      Menutup aurat secara sempurna
Mengenakan pakaian yang menutup aurat memang sudah menjadi syari’at Islam. Pakaian tidak hanya menutup aurat tetapi yang bisa menjaga lekuk tubuh dan tidak mengundang perhatian terutama dari lawan jenis.
3.      Menghindari berlembut-lembut suara di hadapan lelaki bukan mahram.
Hal ini karena lelaki mudah terpancing hanya dengan mendengar suara wanita apalagi suara yang dilembut-lembutkan.
4.      Menghindari khalwat
Khalwat ialah berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Khalwat tidak hanya dilakukan secara fisik saja akan tetapi bisa melalui dunia maya. Khalwat di dunia maya ini lebih berbahaya karena tidak bisa dengan mudah dideteksi.
Mengalami kegalauan di masa penantian merupakan hal yang wajar terjadi, maka perlu diatasi dengan cara berikut :
1.      Ikhtiar dengan cara yang baik
2.      Bertawakkal kepad Allah setelah melakukan ikhtiar secara maksimal
3.      Meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat

4.      Memperbanyak beristighfar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar