Jumat, 18 Maret 2016

Kampus Fiksi XV: Si Kiri yang tersesat Diantara Para Kanan


Jum’at, 29 Januari 2016
Jogja sedang panas-panasnya ketika saya tiba di Stasiun Tugu. Alhamdulillah, pihak KF berhasil menemukan saya dengan mudah di antara puluhan penumpang kereta yang beragam. Setelah menjemput saya, masih ada beberapa orang lagi yang harus dijemput di beberapa tempat. Penjemputan berikutnya, saya bertemu Kak Nabila yang bernadzar untuk ke salah toko buku di Jogja ketika baru sampai, ada juga Kak Putri yang pada akhirnya menjadi kakak asuh saya selama di KF.
Kembali ke mobil berkapasitas delapan orang itu, rasa kerdil mulai membayangi. Obrolan yang tercipta (tentunya) berkisar pada sastra. Entah apa yang mereka bicarakan, sungguh! Berbagai nama yang terdengar asing di telingaku mereka sebutkan satu per satu. Di situlah saya -pada akhirnya- mensyukuri ketidakberdayaan tubuh ini terhadap sengatan matahari yang terlalu banyak. Di mobil, lambat laut kesadaran mulai menghilang.
Tak lama kemudian, gedung Kampus Fiksi –yang hanya pernah saya lihat di foto-  mulai nampak. Bangunan dilengkapi dengan beberapa kamar tidur ukuran 3x3 meter, sebuah ruang meeting, dapur, dan kamar mandi minimalis. Yang kesemuanya itu harus dibagi bersama ke-18 peserta lain. Ya, hanya 19 peserta –termasuk saya-. Samping tempat duduk saya kosong, yang harusnya diisi oleh Kak Zulfa dari Bogor, namun beliau berhalangan hadir.
Malam hari, acara dimulai dengan perkenalan. Tak diduga, salah satu dari peserta ada Mba Nining, teman satu SMA saya! Duh, bagaimana mungkin saya tidak menyadari keberadaannya? Dari perkenalan ini pula saya tahu Mas Suki-ndar, asli Gunung Kidul. Penampilannya mirip sekali dengan Uyan, salah satu tokoh di Sitkom Preman Pensiun itu. Tak ada yang menduga kalau Uyan KW ini mengenyam pendidikan di prodi Pendidikan Fisika. Ada pula peserta termuda, Dik Emma, yang baru memasuki semester dua. Dia salah satu orang polos –maksud saya, benar-benar polos- yang pernah saya temui. Lalu ada Kak Nani, yang mengingatkan saya pada seseorang yang keren. Dan ternyata beliau tidak kalah keren dengan seseorang di ingatan saya.
Pembukaan acara secara formal dilakukan oleh Bapak Rektor Kampus Fiksi, Edi AH Iyubenu –begitu nama penanya-. Entah mengapa, saya menyukai nama belakang beliau: Iyubenu. Figur beliau seperti Pak De saya. Dan ternyata, begitu pula pemikirannya. Saya mulai suka dengan kondisi ini. Ada secercah harapan, mendoa, semoga besok saya bisa lebih nyambung jika teman-teman ngobrol tentang kepenulisan.

Sabtu, 30 Januari 2016
Diantara semua para peserta, saya suka dengan Kak Banin yang sedang hamil 3 bulan tapi massanya tak lebih dari 38 kg! Tahu kan, sayang pada pandangan pertama? Yang jelas, saya suka sama Kak Banin. Titik! Dan itulah yang melatar belakangi saya untuk memaksa beliau untuk duduk di kursi samping saya. Biarlah Kak Say-yid sendirian di belakang sana.
Acara dimulai jam 8 pagi. Brainstroming bersama Kak Nisrina. Inti dari materi ini, jangan jadi orang yang membosankan. Berilah kejutan, twist pada tiap cerita yang dibuat.
Selanjutnya, saya tidak ingat, sungguh. Di catatan saya hanya terdapat coretan:
Tulisan asyik?
(1) Pengetahuan di atas rata-rata,
(2) Penafsiran dan pengaruhi orang lain,
(3) Income (?).

Ide
(1) Imajinasi
(2) Unik
(3) Tips mencari ide:
Outline, dan disiplin dengannya
Judul, kalimat pembuka
Membuat kalimat lincah
Snapshot dan frase
Apa ini materi yang diberikan oleh Kakak berkerudung biru tosca?
Acara berikutnya diisi oleh Kak Ajjah. Saya ingat, soalnya beliau ini yang nantinya akan membimbing kelompok saya. Beliau menyampaikan materi tetang self editing. Mungkin, diantara semua materi yang diberikan, hanya materi ini-lah yang saya kuasai. Jangan jahat dengan editor dengan menyajikan tulisan yang amburadul. Semakin apik tulisan, semakin bahagia editor, semakin cantik polesan yang diberikan.
Dan acara yang ditunggu pun tiba. Menulis cerpen dalam waktu -sepertinya- tiga jam. Tak banyak yang saya ingat ketika menulis cerpen ini, kecuali saya bermain Deck Heroes dengan khusyuk ketika tulisan saya masih seperempat halaman A4. Jangan ditiru. Saya sebenarnya tidak tahu harus menulis apa, dan hampir menyerah begitu saja sampai tiba-tiba ide itu datang. Dan ketika sudah mendapatkannya, tiga jam terasa lama.
Pesan moral: mencari buku untuk landasan teori jauh lebih mudah daripada mencari inspirasi. Percaya sama saya!

Minggu, 31 Januari 2016
Acara pagi diisi oleh fans Kak Nabila, Nabila JKT 48 maksud saya. Mas Agus Mulyono, bloger, mantan penjaga warnet yang terkenal gegara mengedit fotonya bersama Nabila JKT48. Dan, sepertinya beliau harus nge-fans juga dengan Nabila KFXV. Bagaimanapun juga, Kak Nabila berhasil menghidupkan suasana pada acara ini.
Kemudian dilanjutkan dengan Om Damnuril Muhammad mengenai Kepenulisan di media. Dan sepertinya beliau ingin menekankan: menulis itu bukan pekerjaan! Ada juga materi dari editor-nya Raditya Dika, Bang Aconk. Tapi saya lupa beliau mengisi materi apa. Catatan saya hanya berisi biodata beliau (?)
Lalu dilanjutkan dengan mengulas cerpen yang sudah dibuat kemarin. Pada sesi ini, acara sepenuhnya diserahkan pada mentor masing-masing kelompok. Kak Ajjah membagi cepen kelompok saya secara acak. Refleks, saya mencorat-caret EYD yang kurang tepat, penulisan yang salah, sampai jarak spasi yang tidak teratur. Disitu lah Kak Ajjah menemukan bakat saya: menemukan kesalahan orang. Semoga saja saya bisa menyalurkan bakat ini dengan benar.
Pada sesi ini pula saya sedikit tertampar. AI –judul cerpen yang saya buat-, ternyata tidak bisa ditangkap oleh sebagian besar orang yang membaca cerpen saya. Sedih juga si. Tapi itu pembelajaran yang berharga. Tidak semua orang mengerti mengenai hal-hal yang kita dalami, kita sukai. Dan sebagai seorang penulis, sudah berkewajiban untuk menyampaikan pesan tersebut kepada siapapun. Seawam apapun dia terhadap materi yang kita miliki. Saya masih harus banyak belajar.
Alhamdulillah, di sesi break, Kak Nabila dan Kak Nani berhasil menangkap isi yang saya tulis. Terharu.

Di atas, hanya ulasan formal menganai KFXV. Perlukah saya ulas mengenai bagaimana cara mengantri yang baik ketika hanya ada tiga kamar mandi? Atau bagaimana cara agar tidak hilang di Malioboro yang padat dan sesak? Atau bagaimana nikmatnya makanan yang disajikan oleh panitia, baik makanan berat maupun makanan ringan? Ah, kalian pun bisa megalami yang lebih dari itu jika berada di sini, di Keluarga Kampus Fiksi!


Surakarta, 18 Maret 2016
pukul 21:07 WIB
Zahrotunnisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar