Kamis, 22 Mei 2014

"Ini namanya kerudung, Dek"




Beberapa hari sebelum Stadium General, HMJ P. MIPA mengadakan bakti sosial ke sebuah SD di daerah Mojosongo, Surakarta. Tidak tau kenapa, aku dan sahabatku dengan suka rela mewakili prodi kami untuk ikut serta di dalam acara tersebut. Padahal teman-teman kami yang lain sedang sibuk merancang senam angkatan.

            Acaranya hanya sebatas perlombaan antar kelas dan membagikan beberapa sarana prasarana ke SD tersebut. Ketika perlombaan berlangsung, aku mendapat kepercayaan untuk mengampu kelas satu. Berbeda dari kelas 2-6 yang sudah memakai seragam olahraga SD, kelas 1 masih memakai seragam olahraga TK mereka dahulu. Ah, tapi perbedaan seragam olah raga tidak membuat kekompakan mereka berkurang. Buktinya mereka dengan sigap melaksanakan perlombaan. Pada ahirnya, kelas satu berhasil mendapatkan hasil yang terbaik yang bisa mereka lakukan!
            Ternyata kedekatanku dengan anak-anak tadi tidak hanya di arena perlombaan saja. Ketika lomba usai, beberapa dari mereka langsung mengerubungiku dan mengajakku bermain. Ada yang tiba-tiba meloncat naik ke punggung, ada yang merengek minta dituntun, ada juga yang ingin minta perhatian dengan berkata “Kakak, si fulan tadi nakal sama aku”. Ah, lucu sekali mereka ini. Sampai pada akhirnya, gerbang sekolah dibuka dan mereka berlarian keluar sekolah untuk membeli jajanan yang berada di luar sekolah.
            Aku menghela napas lega, ini training terbaik jika ingin punya anak banyak!
            Tiba-tiba seorang anak perempuan menarik bajuku, “Kak! Kakak!” ucapnya.
            Aku tersenyum, anak berambut sebahu ini juga kelas satu. Aku bisa menyimpulkan kalau anak ini sedikit pendiam, karena ketika teman-temannya yang lain sibuk mencari perhatianku, ia lebih memilih duduk dan melihat dari depan ruang guru. Aku berjongkok menghadapnya, “Iya dek, kenapa? Ada yang nakalin kamu?”
            Anak itu menggeleng, namun tangan kecilnya mulai membelai wajahku, “Kakak kok cantik?” ucapnya polos yang membuatku malah malu.
            Tangan kecilnya beralih pada kerudungku dan mengelus-ngelusnya dengan asyik, “Ini apa Kak?”
            Aku tersenyum, “Ini namanya kerudung, nanti kalau adek udah gede, adek juga pasti pakai kok.”
            “Wah, iya kah? Berarti aku bisa cantik kayak kakak?”
            Aku mengangguk, “Bahkan lebih cantik!”
           Anak itu tersenyum dan memelukku sejenak sebelum akhirnya berlari menuju gerbang sekolah.
            Kedua mataku menyipit, meskipun aku sedang tidak memakai kacamata, namun aku masih bisa melihat tulisan yang berada di belakang baju olahraga milik adek tadi. “TK blablabla” yang merujuk pada sebuah agama tertentu. Dan, aku bisa menyimpulkan kenapa anak tadi bertanya mengena kerudung yang kupakai.
            Kalimatku beberapa waktu yang lalu tiba-tiba terngiang, “Ini namanya kerudung, nanti kalau adek udah gede, adek juga pasti pakai kok.”. Berbagai perasaan seketika bercampura aduk. Aku menghela napas panjang.
Akankah kamu mengingat percakapan yang kamu lakukan bersamaku ketika dewasa nanti? Akankah kamu mengerti tentang makna dalam dibalik percakapan kita? Apakah Allah memiliki rencana lain untukmu dan aku, Dek? Adek kecil yang cantik, semoga Allah menunjukan jalan-Nya kepadamu. Aamiin.

2 komentar: